Pagarsih 1996

Jalan tandus berdebu, dengan kendaraan umum berwarna orange berseliweran, bertuliskan Abdul Muis-Elang di bagian kepala kendaraan tersebut, di bagian kaca belakang ditempel sbuah stiker besar bertuliskan situ aksan. Di sisi kiri dan kanan berderet rumah-rumah kecil dengan orang yang tampak sibuk hilir mudik mengangkut kertas dan karton dengan sebuah mesin besar dan bau kimia yang khas.



Pagarsih, sebuah daerah di kota Bandung yang terkenal dengan toko percetakannya dan hanya ada satu jurusan angkot yang melintas langsung di jalan ini. Satu daerah yang cukup nyaman aksesnya karena berada di tidak terlalu jauh dari pusat kota Bandung. Sebuah daerah dimana jumlah penduduk tionghoanya cukup banyak dan tinggal berdampingan dengan pribumi. Saya salah satunya, kedua orangtua saya saat menikah lahir dan besar di pagarsih, ayah saya merupakan warga gang luna, ibu saya tinggal di gang mastabir, yang menjadi tempat saya dibesarkan dan tinggal sampai sekarang.

Gang Mastabir ini unik karena lebar jalannya makin lama makin mengecil sampai di ujung, sehingga hanya warga yang di dekat dengan mulut gang saja yang bisa memiliki mobil untuk di parkir di halaman rumahnya. Sedang saya, tinggal di rumah paling ujung dari gang mastabir, dan memiliki struktur bangunan yang unik pula dikarenakan rumah saya dilintasi sebuah parit kecil yang mengalir menuju sungai Citepus, sehingga bentuk tempat tinggal saya layaknya sebuah trapesium yang salah satu sisinya terdapat sisi siku-siku 45 derajat. Tinggal di samping parit dan dekat dengan sungai menjadikan pengalaman tersendiri untuk saya, dulu saat masih kecil saya tidak mengenal istilah septic tank, karena semua kotoran dari toilet langsung mengalir menuju parit di samping rumah saya, yang ketika banjir datang, kotoran-kotoran ini bisa meluap kembali ke dalam rumah. Pagarsih dari sejak dulu adalah area yang rutin terkena banjir kiriman dari meluapnya sungai citepus, walapun termasuk jarang mengenai rumah warga di dalam gang, paling kejadian banjir yang airnya masuk kedalam rumah itu terakhir saya rasakan di tahun 2006 yang sebelumnya saya alami juga di tahun 1997, namun bila melihat rumah atau toko yang lokasinya tepat di samping jalan utama Pagarsih, terutama di bantaran sungai citepus, kita bisa melihat semua gerbang rumah tersebut dibuat tinggi dan tanpa celah untuk menahan banjir.

Selain banjirnya ada satu cerita menarik mengenai sungai citepus, tepatnya di sebuah kanal yang melintasi tepat di sepanjang pasar ulekan, tepatnya saya lupa tahun berapa, namun saya ingat dalam sebuah perayaan agustusan di tahun tersebut, panitia tidak membuat panggung agustusan seperti biasanya, namun mereka menebar ratusan ekor ikan lele untuk dijadikan lomba memancing, hanya pada bulan agustus di tahun tersebut, sepanjang kanal pasar ulekan dipenuhi oleh warga dengan tongkat pancingnya yang membuat saya berpikir, warga pagarsih ternyata banyak sekali yang punya alat pancing, padahal di pagarsih jauh dari kolam pemancingan, tapi mungkin saja para bapak-bapak yang mengeluarkan alat pancing tersebut dulu memang hobi memancing di situ aksan pada tahun 60-70an, karena memang lokasi situ aksan tidak jauh dari pagarsih.

Ada beberapa perubahan yang saya alami semenjak kecil di jalan pagarsih ini, salah satunya kini pandangan saya di balkon lantai 2 rumah sudah tidak dapat lagi melihat bangunan dari menara Bank Harapan Sentosa yang saat ini digunakan oleh bank Mayapada karena dilikuidasi tahun 1998 bersama dengan krisis moneter di Indonesia, tidak lama setelah gedung itu diresmikan.

Satu kejadian lain yang tak terlupakan di suatu sore tahun 1996 ketika sebuah pesawat latih jatuh di pertigaan jalan Jamika dan Jendral Sudirman yang notabenen lokasinya cukup dekat dari tempat tinggal saya di pagarsih, kontan warga terdekat dan dari penjuru kota berduyun-duyun melihat lokasi kecelakaan, termasuk saya yang dibawa oleh orangtua saya menggunakan motor, dan jalanan kala itu macet sekali untuk ukuran tahun 1996. Api saat itu masih berkobar, tapi tidak menyurutkan warga untuk melihat lokasi jatuhnya pesawat, walaupun mereka belum dibekali sebuah gadget yang dibekali alat pengambil gambar seperti sekarang ini. Mungkin yang ada di benak warga pagarsih kala itu, tidak setiap hari ada pesawat jatuh, di Jamika pula dekat dari rumah. Kejadian ini menewaskan belasan orang termasuk awak kapal dan pedagang kaki lima yang berdagang di sekitaran lokasi.

7 komentar:

  1. bagus narasinya, serasa hadir di lokasi. Terimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama, terima kasih untuk apresiasinya :)

      Hapus
  2. Saya sempat mencari berita jatuhnya pesawat di jl jamika, krn ingin sy ceritakan pd anak sy yg skrg sdh menginjak usia 23 thn, akhirnya ketemu berita elekesekeng.net....hatur nuhun pisan....sy pindsh dari padalarang, skrg sdh jd warga aksan yg ternyata dekat jamika......terimakasih untuk apresiasinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, memang sulit untuk mencari berita tersebut, karena pasti saat kejadiannya dulu, belum ada media yang menulis dalam format berita online, kang. 🙏

      Hapus
  3. waktu kecil, saya tinggal di Jatayu. Pas kejadian ini saya diajak almarhumah mamah untuk ngeliat. Boro-boro keliatan, pasesedek nu aya. Mamah saya pingsan karena asmanya kambuh.
    Nuhun, Kang, atas dokumentasinya

    BalasHapus
  4. Ini cerita ibu saya waktu itu saya masih bayi di bawa jualan di bandung, tiba" pesawat jatuh api berkobar menghanguskan kios seblah toko ibu saya, ada beberapa teman ibu saya yg hangus terbakar di sana

    BalasHapus