“Sadayana 26 Kg, janten 26-rebueun jang”

“Oh..teu tiasa langkung pak? Da asa seueur ieu teh?
 
“Atos pas, tingal nyalira timbanganna”
 
“Oh enya atuh, hatur nuhun pak”


Sebuah ingatan akan percakapan pada musim panas tahun 2011 silam di depan rumah, antara saya dan tukang loak. Sore itu saya menjual seluruh draft revisi skripsi dan diktat kuliah saya dengan hitungan seribu rupiah per kilogram. Tak semua saya jual, saya sisakan sekitar 300 gram handout yang isinya saya rasa cukup penting dan tak dapat saya temukan di buku. Sebenarnya sedikit berharap tumpukan kertas tersebut bisa laku setidaknya 40 ribu rupiah, karena setidaknya saat saya berbaring di kamar dan melirik ke arahnya, tumpukan tersebut sudah dapat dibangun seukuran kasur yang saya gunakan bila disusun.

Terpaksa saya gadaikan kumpulan ilmu dan kenangan tersebut, karena selain cukup memakan tempat di kamar, uang hasil penjualannya saya butuhkan untuk membeli tiket masuk job fair di kawasan Braga minggu depan. Entah job fair  keberapa yang saya ikuti setelah lulus kuliah, walau sebenarnya saya sempat bekerja 5 bulan di sebuah distributor produk kopi sachet ternama tanah air sebagai staff akunting. Klise mungkin, tapi alasan saya memutuskan undur diri, karena merasa banyak yang salah dalam system yang dijalankan perusahaan sehingga merugikan karyawan (tipikal alasan resign seorang fresh graduate). Dan begitulah akhir pekerjaan pertama saya setelah sebelumnya 6 bulan menganggur sejak tanggal kelulusan sidang.



Memang saya sedikit terburu-buru mencari pekerjaan dibanding kawan-kawan yang lain, karena bersamaan dengan kelulusan saya pada ujian sidang skripsi Februari 2010, Ayah saya pun lulus dari tempat kerja yang selama ini berperan memberi nafkah keluarga alias pensiun. Sementara adik saya yang terpaut 8 tahun usianya masih bersekolah di SMP.  Terburu-buru, hingga beberapa kali hampir terjebak rekrutmen perusahaan yang melakukan penipuan penjualan terhadap masyarakat.

April 2011, memasuki bulan keempat menganggur setelah mundur, kejenuhan mulai merasuk, rekening tabungan sudah bau busuk. Sedikit merasa bodoh mengorbankan keluarga demi idealisme ceroboh. Terhitung empat kali sudah perjalanan antar kota ditempuh demi status mentereng karyawan perusahaan beken. Pesangon Ayah sudah ludes, sementara saya masih apes. 

Hasil penjualan diktat kuliah sudah habis untuk selembar tiket bursa kerja, bisnis pulsa lebih banyak nagih hutangnya daripada hitung labanya, mulai putar otak dan cerita sana-sini dengan kengkawan untuk mendapat penghasilan tambahan yang akhirnya membawa saya kepada pekerjaan membuat cutting sticker. Tanpa diduga pekerjaan membuat cutting sticker itu tak semudah yang dibayangkan, cukup membebani mata, leher dan punggung. Setelah dikerjakan dan dibentuk polanya oleh komputer dan mesin, ternyata sticker jenis ini mesti dikelupas bagian tak terpakainya secara manual. Makin kecil ukuran stickernya makin sulit pengerjaannya. Satu lembar kertas sticker berukuran sebuah pintu hanya mampu saya kerjakan satu hari saja, itupun perlu diakhiri dengan sebuah pijatan pada malam hari. Tujuh hari berlalu, tujuh lembar raksasa cutting sticker berhasil saya selesaikan dan mendapat upah 5.000 rupiah per lembarnya. 

Tiga puluh lima ribu rupiah, cukup untuk membeli pulsa 10.000 rupiah, mencetak pas foto 8 buah dan kelengkapan surat lamaran kerja beberapa lembar. Tersisa 10.000 rupiah,  kemudian ingat besok lusa ada panggilan interview pekerjaan, rambut perlu dirapikan, shampoo andalan di rumah sudah tak tersisa, pilihannya hanya dua, membeli sebotol shampoo tapi rambut dibiarkan gondrong saat interview lusa atau menggunakan sisa uangnya untuk mencukur rambut dengan gaya hampir botak sehingga shampoo sudah tak lagi dibutuhkan. Dan akhirnya saya memilih alternatif yang kedua.

Rezeki itu hadir di bulan Juni, saya akhirnya bekerja kembali di sebuah perusahaan multifinance dengan jumlah take home pay turun 35% dari perusahaan sebelumnya. Bersyukur, setidaknya menjelang hari lebaran di bulan Agustus saya memiliki penghasilan walau tanpa Tunjangan Hari Raya. Menyesal, karena saya pernah menghadiahi keluarga saya menu lauk buka puasa hanya dengan sebuah kerupuk  ojay dibagi masing-masing per kepala. Selama Ayah saya bekerja, tak pernah ia memberi makan keluarga hanya dengan makanan tak bergizi tersebut. Sakit tentunya, sakit hati saya atas ketidakmampuan ini

Gaji yang kurang layak untuk lulusan S1 masih coba saya terima, berharap loyalitas dan pengembangan etos kerja dapat berdampak pada karir dan kenaikan salary. Sambil bekerja saya mulai berbisnis untuk mencari tambahan penghasilan, apapun yang bisa saya jual saya coba putar di pasaran, dari mulai bisnis keripik yang sedang musim, sandal pria, kaos anak sampai kemeja bermotif batik klub sepak bola.

Satu setengah tahun sudah saya bekerja di perusahaan tersebut, surat pengangkatan pegawai tetap pun sudah disodorkan HRD. Senang yang disusul kecewa dalam sepersekian detik melihat kenaikan gaji saya hanya sebesar 5.000 rupiah dari gaji awal. 

Otak mulai berputar kembali, berpikir mengenai masa depan karir di perusahaan ini, apalagi tahun ini adik sudah mulai mengenakan seragam putih-abu yang tentunya membutuhkan tambahan biaya. Sampai akhirnya saya bertemu dengan seorang teman kuliah di sebuah pusat perbelanjaan di daerah Pajajaran Bandung yang bekerja memasarkan produk perbankan saat itu. Mendengar bagaimana penghasilannya dari pekerjaan tersebut, saya pun mulai membuang idealisme pribadi yang beranggapan lulusan S1 harus bekerja mengatur system dan prosedur. Saya memutuskan untuk turun ke jalan, siap bermandikan terik dan bertemankan hujan.

Akhirnya saya menyandang gelar sebagai pegawai bank, suatu kebanggaan tersendiri untuk Ibu saya, saat sewaktu-waktu ditanya tetangga yang membeli jajanan di warung makanan Ibu, dengan lantang dan wajah sumringah Ibu menjawab, “Nu paling ageung ayeuna mah tos damel di Bank”, begitupun saat halalbihalal keluarga besar di hari raya, walaupun sebenarnya status saya di perusahaan masih karyawan outsourcing. Memang tingkat penghasilan meningkat tajam, gaji pokok yang saya terima dari perusahaan sebelumnya naik 2 kali lipat, apalagi bila di bulan tersebut saya melebihi target yang ditetapkan, ada tambahan insentif menanti, namun berbanding lurus juga dengan pengeluaran yang bertambah besar karena biaya bahan bakar, perawatan kendaraan dan tariff parkir yang menjadi sangat boros. 

Bekerja sebagai staff marketing dengan jam kerja flexible sangat menyenangkan buat saya, di siang hari saya dapat pulang ke rumah untuk makan siang masakan Ibu demi menghemat pengeluaran. Namun resikonya harus siap juga menerima panggilan siang malam bahkan akhir pekan, deringan telepon adalah nada kebahagiaan yang mempunyai probabilitas dalam memberikan rezeki dan menambah pencapaian prestasi kerja saya. 

Beberapa bulan berlalu, rute pergerakan saya di Bandung menjadi semakin luas, yang saya rasa pasti sudah melebihi rute tukang ojek dalam sehari. Tak hanya mobilitas, keterampilan saya berbicara pun mengalami peningkatan, karena pekerjaan ini memaksa saya berbicara dengan banyak orang baru dalam waktu singkat. Dalam sehari saya dapat berkenalan dengan 5-20 orang baru, bahkan dapat langsung menggali kehidupannya. Yak, saya yang dikenal sangat introvert kini kuat berbicara seharian dengan topik yang beragam.

Kerja flexible di perusahaan dengan nama besar,  tak berarti bisa tumpang kaki minum kopi. Setiap sebulan sekali menjelang akhir bulan, selalu diadakan penggalauan massal dengan audiens para pekerja lapangan, dan di awal bulan setiap personil akan disidang satu persatu untuk menentukan masa depannya di perusahaan. Persidangan macam ini dapat dimulai dengan berbagai kalimat horror yang langsung berdampak pada detak jantung tak menentu, urat syaraf menegang dan lidah yang kelu.  “Masih betah kerja di sini?”, adalah salah satu contoh kalimat horror pembuka yang langsung membawa saya pada keadaan di atas. Kadang sang algojo sengaja memberi jeda dengan sebuah kesunyian yang membunuh,  hanya satu tatapan sinis dan suara ballpoint yang ia mainkan cukup membuat gaduh isi kepala. “Kalau pencapaiannya tidak bisa diperbaiki, meningan keluar aja, ini perusahaan, bukan yayasan”, belum mampu saya membalas kalimat tersebut si penyidang kemudian menimpal lagi dengan kalimat, “ bulan ini kesempatan terakhir kamu deh, kalau nggak target, kamu udah tau lah mesti ngapain”.

Ya, begitulah pekerjaan sales marketing, serasa berjalan di seutas tali yang memisahkan antara hidup dan mati. Tekanan macam inilah yang menyebabkan mood bisa naik turun dalam hitungan hari bahkan jam. Di satu sisi saya masih ingin berjuang sampai batas kemampuan dan rejeki, namun di sisi lain saya harus realistis menghadapi target yang imajinatif dan memikirkan pemenuhan kebutuhan keluarga kalau-kalau ujungnya saya harus memecat diri. Hal inilah yang membuat pengembaraan karir saya begitu panjang, dari satu bank ke bank yang lain, dari produk pinjaman hingga produk tabungan. Dalam jangka waktu 3 tahun saja saya sudah berkelana di empat bank yang berbeda, dari mulai bank asing, syariah sampai BUMN dan konvensional pernah saya alami, namun tak satupun diantaranya berbuah status pegawai tetap. 

Sampai suatu hari, seorang lelaki dengan perawakan cukup kurus namun rapi datang mengunjungi meja saya saat bekerja sebagai staff marketing funding sebuah Bank BUMN. Bahasanya yang sopan diplomatis menandakan ia seseorang yang terbiasa dengan hierarki pekerjaan. Awalnya ia bertanya soal kredit perumahan, namun ternyata hanya basa basi belaka. Ia kemudian mengangkat sebuah kotak plastik ke atas meja, dan membukanya perlahan. Sedikit tercium aroma gula saat udaranya terlepas. Ah ya rupanya ia menawarkan aneka jajanan pasar. Dengan kemampuan diplomasinya semacam itu? Sungguh mengherankan! Ia menghabiskan sekitar 5 menit waktunya untuk bercerita soal rumah yang akan ia jual, untuk meminta ijin berjualan kue di kantor pada akhirnya. Dan terkuak juga kenyataan bahwa ia mantan kepala bagian akunting yang baru saja diberhentikan oleh sebuah pabrik garmen karena guncangan resesi ekonomi tahun 2015. Sebuah lompatan besar yang harus ia lakukan saat ia terbiasa bekerja di belakang komputer dan kini harus menjajakan kue basah keliling. 
Setelah membeli dua buah kue darinya, tanpa bermaksud menggurui, saya beri sedikit saran penjualan yg lebih efektif, agar ia tak perlu mengelilingi seluruh komplek ruko setiap harinya, lebih baik berjualan di keramaian atau menitipkan saja jajanannya ke kantin-kantin pegawai. Segera setelah ia pergi, saya pun mulai banyak-banyak berpikir. Selama ini saya berjuang mengincar karir dan status karyawan tetap, tapi pada ujungnya segala perjuangan kita dapat diputus begitu saja oleh tangan orang lain yang kita hormati dengan sebutan pak. Beberapa minggu kemudian saya memutuskan untuk resign dari dunia perbankan dan menghindari perusahaan besar dengan aturan ketat untuk dimasuki, karena tujuan akhir saya hanya satu, yaitu membangun perusahaan sendiri. 

Tahun keenam pasca kelulusan sidang sarjana, Curriculum Vitae saya sudah ramai dengan berbagai nama, tak sedikit pun merasa bangga dibuatnya karena sudah tau apa yang ada di dalamnya. Tak satupun titel pegawai tetap saya dapatkan untuk kabar bahagia kepada orang tua. Jenuh sudah pasti, jadi bujang lapuk apa lagi, berbagai bisnis yang dibangun tak kunjung berbuah hasil, partner yang kemudian berhenti selalu menjadi ironi. 

Dalam rentetan kisah saya berganti-ganti pekerjaan, beberapa kali masa-masa pengangguran saya selama 3-4 minggu tertolong oleh fotografi dan sedikit keterampilan pop art yang baru dipelajari secara otodidak, padahal kamerapun tak punya. Termasuk dalam pekerjaan saya saat ini, tak pernah saya sangka, hobi saya di bidang fotografi dan keisengan menulis di blog menjadi alasan saya diterima di perusahaan ini. Mungkin pertanda Tuhan, bahwasanya rejeki terbuka bagi orang yang terus membuka diri. Namun saat ini saya masih menghitung diri sebagai seorang pengangguran selama perusahaan yang saya rancang belum berlari.
Delikan hampa dari ruang mata kirinya yang kosong di balik lensa kacamata yang tebal sedikit menggoda rasa ingin tahu saya akan cerita dibaliknya, namun niat untuk bertanya diurungkan, sekedar untuk menjaga perasaan karena kami belum sedekat itu. Sebagai ganti, ruang pandang di sebelahnya bergerak aktif menyisir area yang belum terjamah. Disusul sepersekian detik tangannya yang saling bersahutan lihai menggunakan berbagai alat potong yang ia asah setiap sore hari. Dari balik pantulan cermin persegi panjang yang sudah patah di sisi kanannya, pelanggannya hari ini sesekali mengintip, memastikan pekerjaan sang tukang cukur berjalan dengan baik.



Pak Ujang namanya, seperti kebanyakan tukang cukur lainnya, ia pun berasal dari Kota Garut. Entah bagaimana sejarahnya, ia pun tak tahu pasti mengapa kebanyakan tukang cukur berasal dari Garut, termasuk ia yang sebelumnya dibawa ayahnya dulu untuk membuka jasa cukur  rambut di Bandung. Kini dengan mewarisi keterampilan yang almarhum ayahnya ajarkan, ia sudah memiliki usaha jasa cukur rambut sendiri di Jalan Teri bertetangga dengan gudang-gudang penyimpanan ikan milik para pengusaha di Pasar Andir Bandung.

Sebagai seseorang yang bekerja di industri yang lekat hubungannya dengan gaya, penampilan Pak Ujang di usianya yang menginjak usia 75 tahun ini pun tak mau kalah kekinian dengan anak muda jaman sekarang. Rambut hitam slicked back berkilauan tertimpa sinar matahari, efek olesan pomade yang ia gunakan setiap harinya sebelum berangkat membuat ia tampil trendy masa kini. Tak lupa kemeja dan celana katun rapih selalu ia gunakan di kesehariaannya menambah kesan dandy  percaya diri.

Bisnis barbershop Pak Ujang ini ia bangun bergaya semi-outdoor dengan menggunakan atap teras sebuah gudang persediaan ikan dan sebuah spanduk bekas untuk menutupi bagian belakangnya, sedangkan bagian samping kiri dan kanan ia biarkan terbuka untuk sirkulasi udara. Saat ia memulai bisnisnya pada tahun 60-an, terdapat 8 orang kapster asal Garut termasuk dirinya yang berbagi lapak jasa cukur di sepanjang Jalan Teri. Hingga pada tahun 2016 ini, tersisa hanya Pak Ujang dan Pak Arun sahabatnya, yang membuka jasa cukur di area tersebut, sedang 6 teman seangkatannya sudah meninggal dunia.

Pada tahun 1963, saat pak Ujang memulai usahanya, ia masih berusia 22 tahun dan berstatus bujangan. Artinya sudah 53 tahun ia menjadi tukang cukur dan telah mencukur ratusan ribu rambut dari kepala berbagai macam orang. Beberapa diantaranya yang saat pertama kali dicukur ketika masih kecil oleh Pak Ujang datang kembali untuk minta dicukur rambutnya, dan mereka banyak yang sudah menjadi pengusaha besar ataupun pejabat. Ada pula orang dari luar pulau yang sebelumnya pernah merantau di Bandung saat muda, kemudian saat mereka sedang mengunjungi Bandung, mereka sempatkan untuk mencukur rambut mereka di Pak Ujang.

Tukang cukur memang memiliki peran merapikan rambut yang berantakan sehingga sang pelanggan dapat tampil lebih baik di depan umum, namun tanpa kita sadari peran mereka lebih dari itu. Karena saat sang kapster sudah membentangkan kain penutup ke badan pelanggan mereka, disitulah para orang-orang yang duduk di kursi panas mulai bercerita tentang apa saja. Ada yang mengajak diskusi persoalan politik negeri, ada juga yang berbicara tentang pertandingan klub sepakbola kesayangannya, dan bila sudah merasa cukup dekat dan intim dengan sang kapster, mereka pun tak ragu berkonsultasi tentang permasalahan pribadinya. Bisa dibayangkan, Pak Ujang yang sudah puluhan tahun menekuni usahanya sebagai tukang cukur telah mendengar ratusan ribu cerita yang berbeda-beda setiap harinya. Berbagai perspektif, paradigma dan karakter telah ia temui hanya dengan berdiri di balik cermin dan memegang gunting serta pisau.

50 tahun berlalu, Pak Ujang kini telah memiliki 5 orang anak dan 5 orang cucu yang masih bersekolah, namun belum ada yang meneruskan usaha dan keterampilannya.
50 tahun berlalu, tempat yang sama, profesi yang sama, kota yang berubah muka, rekan yang hilang dan menua, namun tersimpan ribuan cerita dari ribuan kepala.
7 Juli 2016, sama seperti tanggal 7 Juli di tahun-tahun sebelumnya, sebuah kue bolu saya sodorkan di meja untuk Ibu saya saat beliau menonton televisi sebagai salah satu peringatan hari Ulang Tahun Ibu Saya. Salah satu? Iya satu, karena Ibu saya ini selalu memperingati ulang tahunnya pada tanggal 7 Juli tahun masehi dan tanggal 1 Muharram tahun Hijiriyah yang memang 58 tahun lalu saat Ibu saya lahir, kedua tanggal tersebut bertepatan.



7 Juli yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya, hanya saja hari ini bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri hari kedua. Seperti biasa saya sengaja berkeliling mencari toko kue yang kebetulan agak sulit karena kebanyakan toko masih tutup karena libur lebaran.

7 Juli yang sama karena entah sejak tanggal 7 Juli tahun kapan. Saya tak dapat mengucapkan dengan lantang ucapan selamat ulang tahun kepada Ibu. Lidah saya kelu, suara tak mampu keluar, hanya ucapan “mah ieu mah” dan menyodorkan kue kemudian beranjak pergi. 

7 Juli yang sama, bersyukur Ibu saya tidak pernah meminta banyak termasuk mendorong saya untuk menikah secepatnya seperti cerita kawan-kawan saya tentang orangtuanya. Beliau tau saya sambil belajar adaptasi menjadi tulang punggung keluarga setelah Ayah tak bekerja dan adik yang masih harus bersekolah.

7 Juli yang sama, ingat bahwa usia saya makin dekat angka tiga puluh dan Ibu makin dekat angka enam puluh, dan saya masih biarkan ibu mengurus rumah tangga.

7 Juli yang sama, mata sedikit berkaca-kaca dan memalingkan muka tanda tak bisa berkata. Sedikit bercampur amarah karena beranjak tahun ke-6 setelah mendapat toga, tak bisa berbuat banyak untuk keluarga.

7 Juli yang sama, do’a ulang tahun yang sama dari Ibunda. “Sing sukses, sing dilancarkeun sagalana, sing aya rejekina”.

7 Juli 2016, do’a saya untuk Ibunda   Sing sehat  mah..nuhun sagalana”, terimakasih sudah terima saya apa adanya, terimakasih masih ada untuk saya dan sabar menunggu.

Ini kisah  tentang mawar, bukan setangkai bunga, bukan pula seorang wanita. Mawar adalah singkatan unik dari nama sahabat saya semasa kuliah Mohamad Anwar. Pria ini mengaku memiliki nama panggilan Fani saat sesi perkenalan di acara masa orientasi kampus, entah dari mana kaitan nama Fani dan Anwar, saya pun tak pernah tau sampai sekarang.


Mawar asli dari Cirebon, dan baru pertama kali menginjakkan kaki di tanah priangan Kota Bandung tepat 11 tahun silam setelah berhasil masuk kuliah lewat jalur PMDK. Yang paling saya ingat selama masa perkuliahan adalah sepedanya, setidaknya ia satu-satunya yang saya ingat secara konsisten melakukan bike to college selama 4 tahun setiap berangkat dan pulang kuliah. Selama perkuliahan ia tinggal di kediaman pamannya di daerah Baros, Cimahi. Dan setiap perjalanan yang ia tempuh dari Baros ke kampus kami di daerah Ledeng, Bandung, membutuhkan waktu sekitar 4 jam! Tentunya begitupun sebaliknya saat harus pulang dari kampus ke rumah pamannya. 

Di perkuliahan ia akhirnya menemukan apa yang menjadi kegemarannya, yaitu mendaki gunung dan menikmati kopi. Puncak-puncak gunung di Jawa Barat telah ia habisi dengan lahap hanya dalam beberapa tahun. Secangkir ramuan Kopi Bahagia yang ia temukan pun selalu menjadi bahan perbincangan tiap kali bersenda gurau di sebuah grup chat.

Kopi Bahagia, sebuah ramuan kopi hasil ciptaannya yang memang membuat orang tersenyum saat meminumnya. Mengapa? Karena nyaris tak ada rasa pahit ataupun manis pada kopi yang ia buat, dengan kata lain, hambar. Tentu saja, bagaimana kopi tersebut tak terasa hambar, kopi yang sudah tersisa ampas ia seduh kembali dengan air secangkir penuh. Tak perlu tanya kembali bagaimana rasanya, yang jelas membuat orang tersenyum geli saat meminumnya, itu mengapa kopi yang ia buat dinamakan kopi bahagia.

Mawar pribadi yang keras namun tak ada duanya di dunia. Dengan lantang ia menyerukan akan berpoligami di usianya yang menginjak 20 tahun dengan alasan satu orang istri tak akan sanggup mengurusnya dan ia mengatakannya dengan nada sangat serius, walaupun sampai saat ini ia masih bergabung dalam klub bujang bersama saya di lingkungan teman-teman seangkatan jurusan.

Untuk memenuhi kegemarannya menyeruput kopi dan naik gunung secara berkala, ia tak pernah meminta apapun dari keluarganya di Cirebon atau pamannya di Cimahi. Setiap hari ia membawa beberapa bungkus rokok dan cemilan Gery Chocolatos dan Richeese Nabati untuk dijual kepada teman-teman sekelas. Dagangan Mawar laku keras karena di kelas kami cukup banyak yang merokok saat jeda perkuliahan atau sambil menunggu dosen memasuki kelas. Dan ketika perkuliahan berlangsung tak jarang ada yang memanggil namanya dari kejauhan atau melalui pesan estafet untuk membeli cemilan yang dijual Mawar. Karena bisnis yang ditekuninya ini, ia kerap dipanggil Anwar Chocolatos. Tak salah pula ia dijuluki Anwar Chocolatos, tanpa bermaksud untuk rasis, kulitnya yang gelap sangat mendukung panggilan demikian, bahkan ia menjuluki dirinya sendiri sebagai Anwar “The Black Rose”, atau Anwar Mawar Hitam.

Saat masa keemasan Friendster mulai runtuh digantikan Facebook dan Twitter, Mawar tak mau ketinggalan ia pun mulai beraksi di dunia maya dengan segala keunikan natural yang benar-benar tak ia buat-buat dengan spontan saja tanpa rasa menginginkan eksistensi. Tak lama muncullah sebuah akun dengan nama “Ducati Blancapada kolom friend request yang membuat saya berandai-andai mengenai siapa gerangan yang menggunakan nama seaneh itu di Facebook. Setelah mengamati foto profil yang terpajang, akhirnya saya tau bahwa dialah Mawar. Tak hanya Facebook, Mawar pun memiliki dua akun twitter yang keduanya menggunakan nama akun yang tak bisa ditebak, @bangsawan05 dan @nagatunggal. Entah apa alasan ia membuat sampai dua akun, yang keduanya tak memiliki perbedaan fungsi, yaitu untuk menyampaikan cara pandang dan gagasannya yang liar. Kadang ia berbicara sampai berpuluh-puluh tweet yang ia nomori tentang pemerintah, kadang ia juga dapat berkicau soal kalimat-kalimat bijak yang butuh beberapa menit untuk mencernanya, tapi inilah Mawar, penuh orisinalitas dan sumpah ia orang langka yang saya temui sepanjang hidup ini.

Mawar yang berkarakter, Mawar yang lugas saat berbicara menjadi sosok nyentrik yang tak mudah dilupakan oleh seluruh teman seangkatan. Kawan-kawan yang mendapat tugas presentasi akan mulai harap-harap cemas saat melihat Mawar mengangkat tangannya pada sesi pertanyaan. karena hampir dipastikan ia akan melempar pertanyaan yang tak pernah dibayangkan orang. 

Selain nama Fani, Mawar Hitam, Nagatunggal, Bangsawan 05 dan Ducati Blanca, Mawar juga memberi julukan pada dirinya sendiri Pangeran Kegelapan dan kadang Panglima. Bersama saya dan beberapa teman-teman lain kami tergabung dalam Black Monarchy. Black Monarchy bukan sebuah geng motor, bukan juga ormas apalagi kelompok aliran agama sesat, dasar penamaan tersebut berdasarkan kawan-kawan seangkatan yang berkulit gelap. Sedikit rasis memang, tapi tak ada yang tersinggung karena ini hanya sebatas candaan, saya dan Mawar pun otomatis bergabung dengan  Black Monarchy hanya karena kulit putih kami sedikit lebih tua dibanding kawan-kawan lainnya. Dan di Black Monarchy inilah ia memperoleh jabatan Panglima sekaligus Pangeran Kegelapan.

Enam tahun lebih kami bersama-sama telah lulus dari almamater yang mempertemukan kami di bangku kuliah, pertemuan kami setelahnya dapat dihitung oleh jari. Mawar yang bekerja di sebuah Bank di Cirebon selama kurang lebih 4 tahun cukup jarang berkunjung ke Bandung dan bertemu dengan kami yang berdomisili dan bekerja di Bandung. Mawar sebenarnya sempat bekerja di Bandung selama kurang dari setahun yang kemudian entah bagaimana cerita lengkapnya, kini ia terlempar ke sebuah kota di Saudi Arabia bernama Dammam. Dan karena teritori yang dekat tanah suci Mekkah, ia pun sudah berkesempatan untuk beribadah umrah 2 bulan lalu. Melihat foto dirinya di tanah suci Mekkah diunggah di Facebook, saya dan kawan-kawan sangat bahagia melihat bagaimana perjuangan dan kerja kerasnya sedari kuliah bisa mengantarkannya umrah. Kini kepalanya plontos dan membuat wajahnya sangat mirip dengan Mehcad Brooks, aktor yang memerankan Jimmy Olsen di film serial Supergirl.

Walau lama tak bertemu muka, kini kami secara rutin berkomunikasi lewat media grup chat. Dan selalu saat ia muncul di grup, perkataan kami yang di Indonesia selalu sama kepada Mawar, “kangen kopi bahagianya Anwar”.
"Putih..lembut..menggoda.."
Ah..suatu sore di hari senin, Jalan Braga saksinya, hari itu menjadi kesempatan saya menikmati untuk pertama kalinya. Sedikit tersembunyi memang lokasinya, tak banyak orang yang tahu, ia pun malu-malu menawarkannya. Walau sedikit menunggu akhirnya didapat juga,  talinya yang diikat kencang malah menambah godaan untuk segera membukanya. Hangat sekali terasa setelah berada di genggaman dalam keadaan terbuka, kemudian dibelah pelan-pelan  sambil memegangi kedua belah sampingnya hingga tumpah ruah yang ada di dalamnya. Apalagi harumnya yang sangat menggoda semakin membuat saya kehilangan kendali atas nafsu yang selama ini sudah di tahan. 




Bacang Panas Braga, begitu yang tertulis di gerobaknya. Hanya dalam sekejap dua buah bacang ini sudah habis saya lahap seketika. Sesuai dengan namanya, bacang ini sangat lezat
dinikmati dalam keadaan panas, dan dagingnya melimpah ruah saat dibelah di bagian tengahnya. Tak salah memang mendengar testimoni teman-teman yang sudah terlebih dahulu mencobanya. Dengan mengeluarkan 7.000 rupiah saja kita dapat mencoba penganan tradisional Tiong Hoa yang satu ini. 
 
Pak Halim, penjual Bacang Panas Braga ini sudah berjualan di sekitar Braga sejak hampir 30 tahun yang lalu. Saat ini beliau berjualan menumpang di sebuah koridor kecil di samping Apotik Kimia Farma Braga atau di seberang ex-bioskop majestic. Ia berjualan di lokasi ini dari mulai pukul 17.00-23.00. Setelah pukul 23.00, pak Halim tetap meneruskan berjualannya sampai ke Jalan Braga Panjang, dekat Braga City Walk dan Braga Permai sampai Pukul 3 pagi.

Putih, lembut, menggoda adalah tiga kata yang saya pakai untuk mendeskripsikan Bacang Panas Braga ini, kalau kamu bagaimana?