Suatu jumat siang pada WFH yang sudah menyentuh hari ke-300 sekian. Dari jarak yang tak begitu jauh di telinga ada bunyi “klontrang-klontreng”, tanda pagar rumah digedor seraya meminta saya yang berada di dalam untuk menemui sang tamu. Entah siapa gerangan.

 

“Gojeeek”, begitu teriak bapak tua berhelm hijau yang bertandang ke depan rumah. Detik pertama saya merasa senang dikunjungi, detik kedua saya kebingungan, karena seingat saya dalam satu jam atau bahkan satu minggu terakhir tidak memesan, bahkan tidak membuka aplikasi layanan berlogo hijau tersebut.

 

Wajah saya yang mungkin terlihat bertanya-tanya kemudian dijawab segera oleh sang pengemudi dengan, “Melon Pan untuk Bapak Irfan”. Aah, saya tau. Ini rupanya yang dijanjikan seorang kawan dalam sebuah grup whatsapp. Sebuah brand kuliner baru di Bandung bernama Pastry Chef by JRX Brew memang sedang membagi-bagikan roti ini secara gratis, setiap hari, selama sebulan penuh. Tentunya tidak tiap hari, rezeki seperti ini datang. Tanpa pikir panjang, saya ambil penawaran tersebut.

 

Kemasan Exclusive dari Melon Pan Pastry Chef by JRX Brew

Mendengar Melon Pan tuh membuat saya teringat dengan karakter anime Anpanman yang pernah tayang di Indosiar minggu pagi. Super hero berkepala roti ini yang mengajari saya kalau pan itu berarti “roti” dalam Bahasa Jepang.

 

Walau disebut Melon Pan, tetapi sesungguhnya rasa original roti ini tidak ada melonnya sama sekali. Nama melon diambil dari bentuknya yang bulat, serta ada bentuk irisan yang menyerupai buah melon. Nah, Melon Pan yang dikirimkan oleh Pastry Chef by JRX Brew ini justru ada rasa melonnya. Maka dari itu, judul artikel ini saya buat demikian. Taburan bubuk gula berasa melon betul-betul menjadikan Melon Pan menjadi roti melon sesungguhnya.

 

By the way, kemasan Melon Pan ini betul-betul well packaged. Dibungkus dengan paper bag yang berlapis, serta kemasan plastik sebagai lapisan terakhir yang menjaga roti tetap fresh saat diterima.

 

So, Melon Pan ini teksturnya empuk. Saya rasa adonan rotinya pun sudah bisa terasa enak dan manis, walaupun tidak ditambahkan bubuk gula di bagian atasnya. Di luarnya terasa crispy, dan di dalamnya lembut. Sungguh kudapan yang datang tepat waktu ketika waktu sudah bergulir menuju sore hari yang disambut hujan deras yang membasahi Bandung.

 

Melon Pan Pastry Chef by JRX Brew

Buat yang penasaran dengan Melon Pan ini, bisa mampir ke IG @pastrychef.official dan @jrx.brew yang sepertinya tidak terafiliasi dengan jrx yang dari Bali itu, hehe.  Pembagian Melon Pan Gratis ini masih berlangsung lho, sampai akhir November ini. Coba saja say hi via DM, siapa tau masih bisa menjadi salah seorang yang beruntung untuk mencoba Melon Pan ini secara cuma-cuma.

Dua tahun lalu, sebuah resensi pendek tentang sebuah buku, melintas di instastory seorang kawan. “Goodbye, things: Hidup Minimalis Ala Orang Jepang” tertulis di sampulnya, dengan nama penulis Fumio Sasaki. Sebuah nama yang baru saja saya dengar kala itu.

 

Dua Buku Rekomendasi untuk Belajar Hidup Minimalis


Satu resensi mungkin tidak cukup menarik. Lalu kemudian muncul resensi ke-2, ke-3, dan ke-4, dari kawan yang berbeda, mulai menggelitik rasa ingin tahu saya tentang isi buku tersebut. Walaupun membutuhkan waktu berbulan-bulan hingga saya akhirnya membeli buku yang dimaksud.

 

Awalnya sih, saya mengira kalau hidup minimalis itu sama artinya dengan hidup hemat dan sederhana. Namun ternyata, lebih rumit dari yang saya duga. Makanya bisa ditulis menjadi sebuah buku berjumlah 242 halaman.

 

Walaupun begitu, di Indonesia sendiri, Fumio Sasaki bukanlah orang pertama yang mengenalkan gaya hidup minimalis melalui bukunya. Marie Kondo melalui program Tidying Up with Marie Kondo yang tayang di netflix jauh lebih populer di negeri ini. Hanya, sayanya saja yang kurang update, hingga kurang familiar dengan Marie Kondo dan metodenya tersebut. Tapi setelah saya rampung melahap habis konten dari buku Fumio Sasaki, bukunya Kondo pun menjadi target bacaan saya.

 

Kedua buku tersebut memang sama-sama membahas tentang kebaikan hidup minimalis, namun ada perbedaan yang kentara antara keduanya. Bila buku The Life-changing Magic of Tidying Up Marie Kondo berfokus pada cara ia beres-beres dan merapikan barang, buku Goodbye Things Fumio Sasaki sangat menitikberatkan pada cara agar kita dapat membuang barang-barang yang (sebetulnya) tidak diperlukan, demi kehidupan minimalis yang lebih bahagia.

 

Memangnya, bagaimana kehidupan minimalis dapat membuat bahagia? So, menurut Fumio, sebetulnya kebanyakan orang yang memiliki barang berlebih, hidupnya tidak bahagia. Selain karena seseorang harus menghabiskan banyak waktunya untuk merapikan barang, benda-benda tersebut pun dapat menjadi sumber distraksi bagi pikiran. Yang saya akui benar adanya.

 

Saat masih membujang dulu, kamar saya bagaikan sebuah gudang yang hampir setiap barang ada di situ. Alih-alih agar aktivitas lebih efektif dan produktif karena melihat menganggap banyak barang-barang yang bisa memberi inspirasi, yang terjadi justru pekerjaan menjadi sering terdistraksi. Setiap mata mendelik ke sebuah barang, ingatan kemudian melayang kepada kapan saya mendapatkan barang tersebut, dari mana saya mendapatkannya, hingga soal warna barangnya, yang berlanjut kepada latar  belakang cerita barang-barang yang ada di sekitarnya. Sungguh memuakkan sekali sebetulnya. Momen macam ini bisa menghabiskan waktu saya 5-15 menit. Ini yang membuat sistem work from home (WFH) yang berlaku saat pandemi awal tahun ini menjadi tidak efektif buat saya.

 

Satu tahun berjalan sejak saya membaca tips dan nasihat yang tertera pada buku ini, kamar saya masih tak mengalami perubahan, dan semakin terasa menyebalkan saat berada di dalamnya. Terutama ketika WFH berjalan. Saya bekerja di tempat saya rehat dan menghibur diri. Dan saya istirahat di tempat saya bekerja. Alhasil, saya terasa bekerja tanpa memiliki batas ruang dan waktu. Seakan waktu berhenti, tanpa pernah bergulir.

 

Tapi tanpa diduga, membuang barang yang dianggap suatu saat akan dibutuhkan, menjadi lebih mudah menjelang pernikahan saya beberapa waktu lalu. Karena seminggu sebelum menikah saya sudah harus memindahkan barang-barang ke rumah kontrakan yang akan ditempati berdua. Saya mulai merasa kalau barang saya itu ternyata banyak sekali, dan sebagian besar jarang saya liat, dan bahkan beberapa baru ingat kalau ternyata saya mempunyai barang tersebut. Jadi, sebetulnya selama ini saya banyak menyimpan sampah  hingga bertahun-tahun lamanya, tanpa disadari.

 

Mata dan hati saya terbuka, ketika satu per satu saya memegang dan membereskan barang-barang yang selama ini terpajang, maupun tersembunyi dalam lemari. Dalam bukunya, Fumio berkata, bila ada sebuah benda yang tidak pernah disentuh selama tiga bulan, itu artinya saya tidak membutuhkan benda tersebut. Maka dari itu saya kemudian memberikan, menjual, serta membuang banyak pajangan berdebu yang tidak pernah saya rawat, seperti hiasan miniature Borobudur yang saya beli saat study tour SMA, action figure one piece yang baru saja saya ingat kalau pernah membelinya, beberapa tumbler yang jumlahnya sudah melebihi tujuh buah, serta topeng guy fawkes dan Phantom of the Opera yang dulu saya beli untuk properti foto yang diharapkan akan terpakai kembali suatu saat nanti. Benda-benda tersebut hanyalah contoh, selain itu, ada sekitar empat karung benda dan dokumen yang saya simpan dengan alasan “suatu saat pasti dipake lagi.”

 

Di samping benda yang sudah sangat lama tidak saya pegang, barang-barang lain yang saya buang adalah barang yang tidak membuat saya bahagia, termasuk puluhan buku yang kini hanya menjadi bagian dari deretan buku yang membuat kamar heurin. Mungkin ada sekitar empat lusin buku yang kemudian saya jual di instagram story, lalu sisanya saya donasikan ke perpustakaan.

 

Kalau dirata-ratakan, buku yang saya jual kebanyakan buku yang tidak rampung saya baca, buku yang secara keilmuannya sudah ketinggalan, atau buku populer yang ketika dipikir-pikir lagi, buku ini bukan saya banget, kendati sudah pernah tamat membacanya. Dulu, saya menyimpannya karena merasa semakin banyak buku yang memenuhi rak, semakin saya merasa bangga. Padahal, jarang ada pula orang yang bisa mampir dan melihat buku-buku tersebut di kamar. Sisa buku yang saya simpan kini, didominasi oleh buku fotografi, sejarah, traveling, dan sastra.

 

Selain itu, saya juga membuang koleksi tiket nonton yang saya kumpulkan sejak tahun 2010, yang sangat jelas menjadi sampah. Beberapa di antaranya ada tiket event, dan tiket kereta pula. Saya hanya menyisakan dua tiket nonton Insidious yang dulu saya tonton saat kencan pertama bersama perempuan yang menjadi istri saya sekarang, serta satu tiket kereta api Parahyangan. Tiket ini istimewa, karena selain desainnya yang klasik dan terlihat mewah, kini sudah menjadi barang bersejarah pula. Kereta api Parahyangan yang saya tumpangi waktu ini sudah tidak ada, dan menjadi Argo Parahyangan sekarang, setelah digabungkan operasionalnya dengan kereta api Argo Gede.

 

Untuk pakaian, saya meninggalkan sekitar sepuluh potong pakaian saja sebenarnya. Hingga ketika tiba di rumah kontrakan, istri saya langsung menyisihkan 50% lagi pakaian yang sebetulnya saya pilih untuk bawa ke rumah. Sungguh faktor pernikahan ini memudahkan saya untuk membuang barang-barang saya. :’).

 

“Yang, baju ini buang ya?”

“mmh..iya”

“Ini jugaa”

“iyaaaa”

 

Tapi yang dilakukan istri saya tidak salah juga sih. Karena baju-baju yang ia pilih untuk dibuang/disumbangkan, rata-rata sudah berusia 5-15 tahun. Iya betul, kalian tidak salah baca. Sebelumnya saya masih memakai kemeja dan kaos dari masa tersebut, termasuk kaos yang saya dapatkan saat ospek kuliah tahun 2005, dan kaos keanggotaan extrakurikuler Pencak Silat sekolah pada tahun 2003. Kebanyakan dari baju-baju tersebut sudah terlihat berbulu, tapi masih saya kenakan untuk tidur, dan disimpan dengan alasan kenang-kenangan. By the way, perilaku seperti ini belakangan baru saya ketahui adalah sebuah penyakit psikologis bernama Hoarding Disorder.

 

Dari dua buku tentang hidup minimalis yang saya miliki, buat saya buku Fumio Sasaki lebih nyaman dibaca. Mungkin karena faktor spacing antar barisnya yang sedikit lebih renggang, dan terjemahannya yang mudah dicerna. Rancangan konten bukunya pun lebih easy-to-read dengan dibuat poin per poin. Sehingga, tidak lelah saat membacanya.

 

Mungkin saat ini, saya sudah menjalankan sekitar 60% dari prinsip hidup minimalis yang diajarkan. Karena saya masih senang membaca buku fisik, serta memandangi foto-foto cetak. Keduanya sangat sulit digantikan oleh digital file. Feel-nya akan terasa berbeda.

 

Kini, di rumah yang saya tempati. Lebih sedikit benda yang dipajang, lebih sedikit pula benda yang ke depannya yang ingin saya miliki. Karena “kapan-kapan butuh” itu arti sebenarnya artinya “tidak butuh”. Lebih sedikit barang yang hadir dalam pandangan, lebih sedikit pula hal yang harus hinggap dalam pikiran.

Pernah mengalami berlangganan layanan streaming mingguan karena ingin menonton beberapa film saja yang tayang eksklusif? Sejak pandemi Covid-19 berlangsung, ini sering sekali saya lakukan. Mulai dari GoPlay, Vidio, Mola TV, hingga Netflix. Nama terakhir yang padahal paling populer baru saja saya jajal belakangan ini karena memang harga berlangganannya paling mahal. Yang lain bisa dibayar dengan harga di bawah Rp20.000 untuk waktu berlangganan satu minggu.

 

Lalu muncullah Bioskop Online yang saya kira akan sama dengan platform layanan streaming lainnya. Dilihat dari namanya sih, ya pasti layanan ini lahir di tanah air Indonesia. Mungkin seperti itu positioning pemasarannya. Tapi ternyata, layanan berdomain www.bioskoponline.com ini menyediakan film-film yang bisa ditonton tanpa berlangganan! Film-filmnya pun film langka pula, yang notabenenya merupakan film-film festival berkualitas yang memang tak bisa masuk selera pasar mayoritas, alias segmented. Makanya, film-film ini terbilang susah dicari setelah lewat masa penayangannya, karena selain hanya dapat mampir sebentar di layar bioskop, ia juga tidak diminati stasiun televisi swasta untuk ditayangkan.

 

Tampilan laman beranda Bioskop Online

Satu atau dua di antara film-film di laman pilih Bioskop Online pernah saya tonton, seperti Keluarga Cemara, dan The Copy of My Mind. Tapi sisanya didominasi oleh film-film yang memang menjadi incaran saya sejak lama, seperti Mereka Bilang, Saya Monyet dan Ziarah, atau bahkan justru film-film yang baru saya dengar judulnya, tapi langsung memikat dari segi cerita, pengambilan gambar, ataupun aspek lainnya. Contohnya saja Daysleepers dan Nay. Keduanya punya keunikan dari segi teknik penceritaan. Daysleepers yang menceritakan tentang seseorang yang melakukan rutinitas kerja pada waktu malam, dan hanya terlihat dari sepotong jendela. Tanpa sadar, ada seseorang yang selalu memperhatikannya di seberang sana. Lalu ada Nay yang latar pengambilan gambarnya 95% dilakukan di mobil, dan mengandalkan akting solo Sha Ine Febriyanti yang selalu tak pernah gagal mengecewakan. Padahal Nay ini sudah diluncurkan sejak tahun 2016.

 

Film-film yang saya sebutkan di atas sudah dapat ditonton dengan harga hanya Rp5.000. Selisih Rp3.000 saja dari harga copy soft file yang dulu biasa saya beli dari sebuah toko film tersembunyi di kawasan Dipati Ukur, Bandung. Jujur saja, memang sampai awal tahun ini saya terbiasa membeli koleksi film secara ilegal di toko tersebut. Sampai akhirnya saya sadar, kalau hal tersebut merugikan pembuat karya. Sebagai sesama pembuat karya, saya pun tentu tak ingin karya saya digunakan secara cuma-cuma, tanpa izin pula. Karena memang hal itu sudah sering pula terjadi pada foto-foto karya saya. Dan rasanya itu sakiiit booss. Apalagi bila pihak yang melakukan penggunaan konten saya itu adalah nama yang punya pamor, dan power yang jauh lebih besar. Maka dari itu, saya pun belajar pula untuk lebih mengapresiasi karya pegiat kreatif lainnya, entah dari dunia musik, perfilman, ataupun bidang lainnya. By the way, walaupun tidak perlu berlangganan, harga tiket nonton Rp5.000 itu diberi jangka waktu juga selama 48 jam sejak pembayaran.

 

Selain film-film yang terbilang langka, dan segmented, Bioskop Online juga menyediakan film-film yang terbilang cukup populer di pasar, seperti The Raid 2: Redemption, dan yang paling terbaru, The Story of Kale yang menjadi perbincangan banyak orang, karena merupakan spin-off film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI) yang cukup berhasil meraih hati banyak penggemar film Indonesia pada awal tahun ini.

 

Untuk film terbaru seperti The Story of Kale, harganya sedikit di atas harga normalnya yaitu Rp10.000. Tapi kan tetap saja cost untuk menontonnya tidak mahal, dan yang paling penting, tidak harus repot berlangganan aplikasi streaming terlebih dahulu. Cukup membuka situs www.bioskoponline.com, pilih film yang ingin ditonton, dan membayar “tiket” menonton melalui berbagai metode pembayaran elektronik yang tersedia sangat beragam pilihannya. GoPay, Ovo, ShopeePay? Semua ada.

 

Walaupun tidak bersentuhan langsung dengan dunia perfilman, tapi saya harap sih, Bioskop Online dan layanan streaming film lainnya dapat menjadi sarana edukasi juga kalau sebuah karya itu, apapun bentuknya, bagi pembuatnya membutuhkan sebuah proses yang sangat panjang, dan tak mudah. Saya sendiri bekerja membuat rancangan konten untuk sebuah brand. Kadang, untuk membuat sebuah konten postingan social media yang bisa engage dengan followers itu bisa berjam-jam, dan membutuhkan kerja sama dengan beberapa orang pula. Memang sih masih bisa dibajak juga, tapi tega gitu beli/pake barang orang, bayarnya pake gratisan atau receh? Ga pake izin pula. :D

 

 

Saya ingat betul, tahun 2010, brand makanan ringan favorit yang biasa jadi target jajanan di warung sebelah tiba-tiba saja membuka restoran fast food macam KFC. Nggak tanggung-tanggung, brand “kaya keju” ini memasang iklan lowongan kerja segede Gaban di halaman favorit saya kala itu di Koran PR hari sabtu. Tapi karena tidak terdapat posisi yang cocok, akhirnya saya memilih memuaskan rasa penasaran saya dengan mendatangi gerai pertamanya di PVJ Bandung.

 

Dari yang awalnya ragu karena makan ayam bersaus keju itu terasa sangat aneh pada waktu itu. Tapi berubah menjadi kagum karena satu dekade kemudian, brand dengan nama Richeese Factory ini bukan cuma bisa berdiri sejajar dengan kompetitor asal negara Paman Sam, tapi juga menjadi game changer di bidangnya. Mulai dari gerobak preciken pinggir jalan, sampai restoran besar, ikut mengadopsi idenya dengan menggunakan saus keju.

 

By the way, kekaguman saya ini semata karena memang senang mengikuti perkembangan dunia bisnis dan marketing. Walau tentu dari segi makannya pun doyan juga. Hehe.

 

So, singkat cerita saya berkesempatan mendapat kabar lebih awal tentang rencana peluncuran brand kuliner terbaru dari PT. Richeese Kuliner Indonesia yang walau masih satu grup, dipisahkan pengelolaannya dengan produsen makanan ringannya (kalau Richeese yang menjual makanan ringan itu dikelola PT. Kaldu Sari Nabati). Iya..iya, mungkin artikel ini bisa dipertimbangkan masuk juga ke kategori “marketing”, selain dapat ditemukan di kategori “kuliner”.

 

Nah, uniknya, brand baru mereka kali ini keluar dari zona nyamannya seputar perkejuan dan coklat. Mereka bahkan menanggalkan nama “rich” yang biasanya melekat di Richeese, Richoco. Jenama untuk persembahan terbaru mereka ini adalah “Urban Ninja”. Walau sesaat mengingatkan saya dengan brand lainnya dengan nama “ninja” yang terkait dengan jasa pengiriman.

 

Urban Ninja Taman Kopo Indah Bandung yang Berbagi Tempat dengan Saudara Tuanya, Richeese Factory

Dari namanya, tentu jelas, Richeese mencoba masuk ke pasar makanan Jepang. Tapi pemilihan namanya pun bisa dibilang menarik, dan bisa dibilang cukup tepat, walau agak nyeleneh. Karena selain mudah dilafalkan dan diingat berbagai kalangan, nama “ninja” juga merupakan istilah Jepang yang sangat populer di Indonesia sejak lama. Ditambah, penggunaan perpaduan warna hitam dan magenta yang cukup mencolok. Tapi buat saya yang cuma paham 12 color palette sih jadi mengartikan warna magenta buat masuk ke pink, yang kemudian membuat warna brand Urban Ninja ini terasosiasi dengan girl band Korea tempat bernaungnya Lisa dan Jennie.

 

Sejalan dengan pemilihan namanya yang easy, pilihan menu-menunya pun memang dibuat lebih mudah masuk ke lidah orang Indonesia. Semua menunya berbasis nasi yang menjadi makanan pokok kita. Di luar itu, Urban Ninja menyediakan side dish yang cukup familiar dapat ditemukan di restoran-restoran Jepang pendahulunya, seperti Gyoza, Ebi Furai, Chicken Katsu, dan Teriyaki.

 

Pelayanan di Urban Ninja Menggunakan Protokol Kesehatan Lengkap

Tapi tentunya, beda nama, beda tempat, beda tangan, membuat cita rasa yang berbeda juga. Secara garis besar, rasa menu makanannya didominasi oleh perpaduan rasa manis dan pedas, sehingga taste-nya menjadi ada sedikit rasa kecut seperti rasa-rasa di masakan Thailand. Salad yang disajikannya pun terasa seperti Thai Salad kemasan yang pernah saya cicipi.

 

Namun, walau sudah melepaskan diri dari citra serba keju yang melekat. Sebetulnya ada satu rasa di lidah yang menjadi benang merah penghubung antara Urban Ninja dan saudara tuanya Richeese Factory. Hal ini dapat ditemukan di cita rasa coating sauce yang digunakannya untuk melumuri menu Urban Beef dan Crispy Chicken mereka. Rasa manis dan pedasnya, sedikit mengingatkan saya pada Fire Chicken yang jadi menu andalannya. Hanya saja, pedasnya ini agak berbeda. Rasa pedas di hidangan Urban Ninja itu ada rempah-rempahnya.

 

Selain itu, untuk penyajian nasinya pun tidak sama dengan Richeese, ada taburan Furikake di atasnya yang walau tak banyak, memberikan rasa yang benar-benar berbeda.

 

Furikake itu semacam bumbu tabur kalau di Jepang. Di menu yang dihidangkan Urban Ninja, Furikakenya ada sedikit taste pedas, dan ada sedikit rasa makanan laut, entah itu rumput laut, atau sejenis ikan-ikan kecil seperti teri. Pas banget buat disantap di atas nasi panas.

 

Saat diundang pada acara pembukaan minggu lalu, saya berkesempatan buat menjajal dua signature menu-nya, yaitu Urban Beef Bowl, dan Urban Chicken Katsu Donburi. Keduanya dapat dihidangkan secara a la carte ataupun combo complete.

 

Menu Urban Beef Bowl Complete Set di Urban Ninja

Khusus untuk combo complete, nasi dan dagingnya disajikan bersama Gyoza, Urban Salad & Ocha Tea. Tapi khusus untuk Urban Chicken Katsu Donburi, ada tambahan potongan silky tofu yang superr lembut, dan (mungkin) ada sedikit rasa keju di dalamnya. Yang pasti, ini tahu terenak yang pernah saya cicipi. Selain topping-topping tersebut, saya juga bisa memesan tambahan side dish yang nggak kalah enak.

 

Pilihan saya jatuh ke Tamagoyaki yang sebelumnya tidak pernah saya temui. Kebetulan pula saya termasuk penggemar hidangan olahan telur. Jadi ketika melihat kata-kata tamago yang berarti telur, saya pun langsung menambahkannya ke dalam pesanan saya. Pada dasarnya, Tamagoyaki ini rupanya sejenis scrambled egg/omelette yang dibungkus, dan digoreng dengan tepung roti. Tampilan luarnya memang mirip risoles, tapi rasanya jelas jauh berbeda.

 

Daftar Menu di Urban Ninja

Sama halnya dengan menu seri fire-nya Richeese, beberapa menu Urban Ninja juga memiliki tingkatan kepedasan yang bisa dipilih sesuai selera. Mulai dari Kawaii, Kakkoii, dan Banzai. Namun hati-hati dalam memilih level kepedasan, karena untuk level Kawaii saja, rasanya sudah cukup pedas. Kalau kalian biasa memilih level 3 Fire Wings di Richeese Factory, maka jangan pesan level ke-3-nya Urban Beef di Ninja. Karena level ke-3 merupakan yang paliing pedass.

 

Dari segi harga, rentangnya dimulai dari 30ribuan untuk a la carte, dan 60ribuan untuk paket combo complete. Sedangkan dari segi tempat, Urban Ninja by Richeese ini masih mengadaptasi desain yang pada umumnya banyak digunakan resto fast food. Namun untuk saat ini, Urban Ninja baru dapat dijumpai di Taman Kopo Indah III, Bandung. Berbagi tempat dengan saudara tuanya, Richeese Factory. Katanya sih, konsep ini akan diterapkan juga di cabang-cabang Richeese Factory lainnya. Sehingga, ada alternatif pesanan lain saat customer tipe keluarga datang ke Richeese Factory, dan dapat pula menjadi barang tambah yang bisa dimasukkan ke dalam keranjang belanjaan.

Suasana Dine In di Urban Ninja Bandung


Dulu, setiap tanggal satu, ayah selalu membawa saya sekeluarga makan di sebuah café dengan hidangan iga bakar sebagai signature menu. Kami duduk di sebuah meja dengan kursi yang saling berhadapan, lalu berbicara berjam-jam tentang berbagai hal. Itulah konsep café yang saya kenal, sebelum terjadi invasi internet dan gadget.

 

Iga Bakar Ala Sprekken Cafe

Ingatan tentang café masa kecil saya itu kembali muncul saat mampir ke Sprekken Café dan berkesempatan berbincang dengan Pak Jacky Masui, sang pemilik, yang juga pendiri dari bisnis oleh-oleh Den Haag Klappertaart yang ternama di kalangan wisatawan Bandung.

 

“Sprekken itu artinya bicara. Makanya saya ingin mengajak yang datang ke sini buat duduk, dan kembali saling berbicara,” begitu katanya. Tak heran cafenya ini dibuat begitu nyaman untuk berbincang lama-lama. Cocok banget buat tempat kumpul bareng keluarga. Desain tempatnya adem, dengan dekorasi ruangan yang bergaya Eropa klasik, sesuai dengan cerminan namanya. Jadi mungkin kalau ajak ayah dan ibu ke sini nanti, mereka pun bisa kerasan dengan suasananya.

 

Kejutannya, ada menu Iga Bakar yang sedikit mengingatkan tentang masa kecil saya bersama orang tua dulu. Cita rasa tentu berbeda, tapi sejujurnya, dari segi kualitas, ini salah satu hidangan Iga Bakar terenak yang saya makan. Rasanya gurih, bumbunya pas, dan porsinya luaarr biasaa besaarr. Saya jamin ga mungkin menghabiskan satu porsi menu ini sendirian. Teksturnya pun sangat lembut. Misahin daging dari tulangnya tuh effortless banget.

 

Di samping Iga Bakar, Sprekken Café juga punya menu-menu makanan tradisional lainnya, seperti Sop Buntut, Nasi Bakar, dan Cumi Sambal Matah, sampai beberapa menu makanan western seperti Spaghetti, dan Beef Stroganoff. Yang pasti, menu-menu yang bisa masuk ke lidah semua orang. Biar saat kumpul bareng keluarga, semuanya bisa menikmati. 

 

Beberapa Menu Lain di Sprekken Cafe

Kalau dari hasil mencicip beberapa menu di Sprekken Café, keunggulannya memang terletak di bumbu dan sambal yang mereka racik. Jadi walaupun pilihan menu-menunya cukup umum, tapi rasanya punya ciri khas. Untuk kisaran harga menunya sendiri dimulai dari Rp16.000-Rp80.000.

 

Sprekken Café sendiri rupanya baru berdiri dua tahun ke belakang. Berbagi tempat dengan kakaknya, yakni Den Haag Klappertaart yang sudah lama menetap di Jl. Bangreng No. 3, Turangga, hanya 5 menit saja dari Trans Studio Mall.

Suasana di Teras Sprekken Cafe

So, kalau sudah sekalian ke Sprekken Cafe, tentunya kurang kalau tidak sekalian memesan Den Haag Klappertaart yang melegenda. Sejujurnya, selama seumur hidup saya tinggal di Bandung, baru kali ini berkesempatan menyantap oleh-oleh Bandung yang satu ini. Sering melintas di beberapa outletnya, tapi belum sempat icip-icip.

 

First impression saya dengan Den Haag Klappertaart ini ternyata rasanya wow sekali. Teksturnya superr lembut. Nggak mungkin deh cuma habis satu. Pantas saja Den Haag Klappertaart ini banyak sekali outletnya, dan jadi salah satu oleh-oleh yang paling diincar wisatawan yang datang ke Bandung. Apalagi memang outletnya secara eksklusif hanya buka di Bandung.

 

Den Haag Klappertaart

By the way, saya baru tau dari Pak Jacky kalau ternyata klappertaart itu hidangan akulturasi antara Indonesia dan Belanda. Jadi walaupun namanya Den Haag. Di Den Haag sendiri nggak ada tuh kue pencuci mulut ini.

 

Selain Klappertaart, di gerai Den Haag Klappertaart juga ternyata menyediakan berbagai kue/cemilan , seperti bagelen, kue soes, dan bolen. Buat wisatawan sih, datang ke Sprekken Café, udah bisa sekaligus one stop shopping buat belanja oleh-oleh yang bisa dibawa pulang ke rumah.

Area Display Oleh-Oleh di Den Haag Klappertaart


 Berantakan, gelap, dan (seharusnya) hangus. Itu gambaran saya tentang Pasar Kosambi. Memang dibanding bangunan pasar lainnya yang pernah saya kunjungi, Pasar Kosambi terbilang kurang penerangannya. Apalagi setelah mengalami kebakaran hebat tahun lalu.

 

Itu pula yang ada di benak saya saat melangkahkan kaki ke The Hallway Space yang terletak di dalam Pasar Kosambi. Beberapa bulan ke belakang, memang saya melihat Instagram Story kawan-kawan lama saya yang masih bekerja di media keluar masuk Pasar Kosambi untuk meliput bisnis makanan yang mulai beroperasi di sana.

 

The Hallway Space Kosambi Bandung

Namun, yang tidak terbayangkan adalah suasana di dalamnya. Awalnya saya membayangkan suasana seperti Los Tjihapit, Pasar Antik Cikapundung, atau mungkin Spasial yang berada di belakang dinding tebal Pasar Kosambi. Namun ternyata, bagian dalamnya jauh lebih rapi dan berkelas dari yang diduga.

 

Bila tempat-tempat yang sebelumnya saya sebutkan tadi selalu menyimpan kesan pasar dan vintage-nya. Di The Hallway Kosambi, hal itu tidak terasa sama sekali. Malah kadangkala, di beberapa titik, saya merasa seperti berjalan di mall PVJ. Kesan vintage-nya sebetulnya masih ada, namun buatan, untuk menarik hati pengunjung berbelanja di toko-toko yang berderet rapi di kawasan ini.

 

Salah satu selasar di The Hallway Space Kosambi Bandung

Dari yang katanya terdapat 52 brand fashion dan kuliner di dalamnya, hanya Ventella saja jenama yang saya kenal. Selebihnya namanya cukup asing, tapi very well designed. Mulai dari logo, sign board, hingga interior toko. Salah satunya dimiliki oleh @indyratnap yang populer dengan Jurnal Risanya.

 

Bila memang semua jenama yang berjualan di sini adalah brand lokal, saya acungkan empat jempol deh buat tim yang berhasil merevitalisasi salah satu blok di Pasar Kosambi ini sampai bisa jadi sekeren ini. Bukan cuma soal tampilan fisiknya sih, tapi dari segi konsepnya pun keren abis. Kalau melihat akun-akun instagram brand yang mejeng di The Hallway Space, jelas, kebanyakan dari mereka merupakan bisnis start-up. Yang berarti, bagus sekali kalau mereka punya sebuah ruang seperti ini di Kota Bandung. Walau mungkin, mereka belum bisa langsung tancap gas di sales offline, karena tentu saja saat ini Pandemi masih berlangsung yang menyebabkan traffic kunjungan langsung belum bisa dioptimalkan. Tapi begitu nanti Covid, PSBB, resesi dan segala macam turunannya betul-betul usai, tempat ini bakalan jadi satu lokasi yang asyik buat nongkrong, belanja, dan yang paling penting menjadi wadah untuk produktif.

 

Selain desain visualnya yang memanjakan mata, alunan live music sore itu benar-benar menghidupkan suasana. Entah akan demikian seterusnya, atau hanya karena hari itu adalah hari pembukaan ruang kreatif tersebut.

 

Live Music di Acara Soft Opening The Hallway Space Kosambi Bandung

Semakin sore, semakin banyak orang yang berdatangan, The Hallway Space pun mulai terasa padat, dan saya semakin parno, haha. Sesungguhnya saya tergolong orang yang tidak terlalu nyaman berada di tempat yang terlalu crowded, apalagi dengan kondisi pandemi Corona yang masih mendera. Jujur saja, memang saya cukup cemas dengan kondisi saat ini. 

 

Karena kedatangan awal saya ke sana adalah untuk mengambil sebuah dokumen dari seorang teman, saya pun langsung melipir pulang setelah mengambil beberapa foto sekaligus berjalan menuju parkiran. Marilah kembali kemari lain hari saat situasi jauh lebih kondusif, hehe.

 

The Hallway Space
Pasar Kosambi Lt. 2
Jl. Ahmad Yani, Bandung

“Mas, saya baru pertama kali makan ayam goreng kaya gini. Rasanya asing banget di lidah, dan nggak bisa saya tebak satu pun itu ayam pake apa aja di dalamnya.”

 

 “Sebetulnya sih bahan-bahan bumbu sama rempahnya yang umum ada di makanan kok, cuma total ada 20 rempah di dalemnya.”

 

“Apa aja tuh mas 20 tuh?”

 

“Pokoknya masih bahan-bahan umum kok, salah satunya sih cengkeh. Yang lain ada lah banyak, hehe”

 

Percakapan kecil di meja kasir tersebut ditutup senyum simpul petugas kasir yang sepertinya juga merupakan pemilik kedai Nasi Lemak Banceuy. Tanpa bermaksud perez pada si empunya. Testimoni yang saya lontarkan memang benar adanya.

 

Paket nasi lemak paha ayam pentung yang saya makan memang rasanya unik. Rasa masamnya ada, rasa asinnya ada, rasa manis, dan sedikit rasa pedasnya pun ada. Susah dijelaskan sih. Terlebih saat mendengar pemaparan kalau memang ayamnya dibuat dengan mencampurkan 20 jenis bumbu dan rempah. Berkali-kali saya mendekatkan paha ayam tersebut ke hidung, namun tidak menemukan aroma tegas yang saya kenal.

 

Nasi Lemak Banceuy Set Paha Pentung

Bagian kulit ayamnya benar-benar crispy. Tapi crispy-nya tidak seperti ayam-ayam tepung fried chicken yang mudah ditemukan di pinggir jalan. Warna dan teksturnya tidak kering keemasan, tapi berwarna coklat biasa layaknya seperti ayam goreng biasa. Namun saya menduga, kulitnya menjadi begitu renyah karena digoreng dengan telur. Ini karena saya menemukan ada bagian mengering yang sepertinya pernah saya temukan di masakan ikan tongkol goreng telur yang sering ditemui di warteg.

 

By the way, saya tertarik mendatangi kedai Nasi Lemak Banceuy ini karena penasaran. Belakangan, namanya sering dibicarakan, tapi kok kayanya baru dengar. Saya sebelumnya beranggapan kalau nama kedai makanan yang menggunakan nama wilayah sebagai bagian dari jenamanya, merupakan kuliner legendaris. Sama seperti Lotek Kalipah Apo, Bistik Astana Anyar, Nasi Kuning Pandu, dll. Padahal usianya baru genap setahun di Bandung. Rasa penasaran pun semakin bertambah dengan penamannya yang menggunakan istilah “Nasi Lemak”. Karena setau saya, Nasi Lemak itu sebetulnya sama saja rasanya dengan Nasi Uduk. Hanya saja, istilah Nasi Lemak itu digunakan untuk hidangan di Malaysia.

 

Akan tetapi, saya rasa, saya mengerti dengan penamaan Nasi Lemak di sini. Selain karena penyajiannya yang memang ternyata berbeda dengan nasi uduk. Istilah nasi lemak bisa mem­-branding menunya sebagai bagian dari wisata kuliner Bandung. Kalau namanya dinamai Nasi Uduk Banceuy, saya akan membayangkan gerobak berwarna biru muda yang hanya hadir setiap pagi hari.

 

Seperti yang saya sebut sebelumnya Nasi Lemak itu ya Nasi Uduk saja. Buat saya rasanya sama persis kok. Harumnya pun sama saja. Hanya memang penyajiannya lebih mewah. Tidak ada irisan telur dadar di Nasi Lemak Banceuy. Namun untuk potongan timun dan taburan kacang gorengnya sih sama. Lalu favorit saya dalam seporsi Nasi Goreng Banceuy ini ada di ikan asinnya yang renyah banget dengan cita rasa asin yang pas.

 

Sebetulnya, banyak paket menu yang menggugah selera sekaligus rasa ingin tahu. Seperti set sultan yang nampaknya sih segala macam topping ada di situ. Ya ada telor, ya ada ayam juga, ya ada rendangnya juga. Selain karena memang harganya bikin kepala banyak-banyak berpikir, bisa dibayangkan juga jumlah kalori yang berada di dalamnya. Mungkin bisa melebihi kalori seporsi Nasi Padang!

 

Karena di daftar menu Es Kacang Merah menjadi highlight, akhirnya saya pun memesan menu dessert tersebut sebagai penutup. Walau memang saat ini kacang merah sudah mulai umum ditemukan menjadi rasa atau isian varian banyak brand ice cream, tapi buat saya kacang merah ini lebih umum sebagai jenis sayur yang dimakan bersama nasi. Kan, di Indonesia sih positioning kacang merah memang sudah lama begitu. Sampai, budaya Jepang dan Korea mulai menginvasi juga Indonesia dari segi kulinernya. Selain kedua negara tersebut, sepertinya penggunaan kacang merah di makanan pencuci mulut juga umum di beberapa negara Asia Tenggara, seperti Malaysia dan Singapura.

 

Untuk ukuran harga Rp14.000, Es Kacang Merah ini worth it lah. Porsinya banyak, kacang merahnya enak. Tidak terasa seperti sedang makan sayur kacang. Pasalnya, walau sebelumnya saya pernah makan dessert kacang merah, biasanya bentuknya sudah tidak berbentuk kacang lagi. Sedangkan yang ini kan masih berwujud sama dengan kacang merah yang saya makan dengan nasi. Tapi karena rasanya enak, it’s all good. Di samping kacang merah, di dalamnya juga ada kolang-kaling, dan cincau dengan potongan panjang-panjang. Ini juga baru buat saya. Bisa saja menu ini jadi sajian baru berbuka puasa di bulan Ramadan.

 

Es Kacang Merah di Kedai Nasi Lemak Banceuy

Setelah satu set Nasi Lemak Paha Pentung seharga Rp24.000, mungkin next time saya akan mencoba set dendeng bakar cabe ijo ataupun rendang daging. Karena kedua makanan tersebut, jelas tidak pernah saya temukan berada di atas sepiring nasi uduk yang saya makan.

 

Buat yang penasaran juga dengan Nasi Lemak Banceuy ini, bisa mampir ke Jl. Banceuy No.117. Tapi perlu diingat, lokasinya bukan di Banceuy yang dekat dengan Alun-alun Bandung, tapi lebih dekat ke arah Viaduct. Tempatnya tidak begitu besar dan bentuknya memanjang. Tapi cukup untuk sekitar 20 orang yang duduk secara terpisah di beberapa meja.

Bagian dalam kedai Nasi Lemak Banceuy


Hari itu saya masuk penjara. Tapi tentu bukan karena kejahatan, namun dalam rangka berwisata. Aneh ya mendengar istilah wisata ke penjara? Saya pun begitu. Namun memang, di plakat pintu masuk Lapas Sukamiskin yang saya datangi pagi tersebut pun tertulis jelas "Lapas Pariwisata". Lebih uniknya lagi, nama orang yang menandatangani plakat peresmian tersebut dapat juga ditemukan di daftar nama penghuni Lapas. Ada yang bisa menebak siapa nama yang dimaksud? :))

 

Pintu ruang tahanan penjara Bung Karno di Lapas Sukamiskin
Pintu sel penjara Bung Karno di Lapas Sukamiskin

Btw, tulisan ini adalah contoh tulisan perjalanan yang terlambatnya keterlaluan. Karena sudah lebih dari dua tahun sejak momen kunjungan yang diceritakan. Padahal sudah saya janjikan juga di caption instagram, saat mengunggah foto-foto tersebut dua tahun silam. Sulit memang bergelut dengan rasa malas. Sekalinya sedang mood, sudah lupa.

 

Dalam kunjungan hari itu, saya tidak sendirian. Sekitar dua puluh kepala ikut serta dalam tour “Jejak Sukarno di Bandung” yang digagas oleh Mooibandoeng dan Komunitas Aleut. Lebih dari separuhnya tentu saya kenal betul. Karena jumlah kami yang cukup banyak, maka rombongan dipecah menjadi tiga kelompok. Saat kelompok pertama berangkat untuk menuju sel Bung Karno, saya yang tergabung dengan kelompok dua dikumpulkan di sebuah aula sambil menunggu giliran.

 

Lonceng tua di salah satu sudut bangunan Lapas Sukamiskin
Lonceng tua di Lapas Sukamiskin

Oh.. ya, sebelum hari tersebut, saya hanya mengetahui kalau Bung Karno itu pernah dikurung di bekas Lapas Jl. Banceuy saja. Namun ternyata, ia sempat dipindahkan dari Banceuy ke Sukamiskin pada penghujung masa tahanannya. Ironisnya, ia jadi harus merasakan sendiri tidur di bangunan penjara yang arsitekturnya ia rancang bersama sang guru, yakni Charles Prosper Wolff Schoemacker. Sebelumnya, saya lebih banyak tahu bekas selnya yang di jalan Banceuy, karena tempatnya tergolong mudah diakses dibanding Sukamiskin. Apalagi memang sekarang statusnya sudah menjadi situs sejarah.

 

Giliran untuk berkunjung pun tiba. Saya dan lima orang kawan pun bergerak menyeberangi lapangan Lapas yang ukurannya mungkin tiga kali lapangan olah raga sekolah pada umumnya. Sementara di salah satu sisinya terlihat dua lapangan tenis berjejer rapi dengan lapangan yang sepertinya baru selesai dicat. Karena terlihat juga warna merah dan hijaunya masih sangat vibrant.

 

Blok penjara Lapas Sukamiskin, tempat Sel Bung Karno berada

Akhirnya kami tiba di blok tempat sel Bung Karno berada. Entah blok barat atau timur, saya sudah lupa namanya. Ini nih resiko kalau tidak dituliskan langsung, hehe. Yang pasti saya melihat suasana blok penjara seperti yang pernah saya liat di serial Prison Break ataupun di film Shawshank Redemption. Bentuknya memanjang, terdiri dari dua lantai, serta berjarak 2-3 meter antar sel. Namun bedanya, penjara-penjara di film-film tersebut diberi pintu teralis, sehingga seandainya penjaga melintas di depannya, kita bisa langsung melihat dari sela-selanya. Nah, beda halnya dengan sel-sel penjara di Lapas Sukamiskin ini. Setiap selnya menggunakan pintu besi yang tertutup penuh. Satu-satunya cara untuk melihat ke dalamnya, adalah dengan mengetuk, dan meminta penghuni di dalamnya membuka lubang intip, atau dengan sekalian saja membukakan pintunya. Yaa kira-kira sama lah caranya seperti Najwa Shihab melakukan sidak kepada narapidana sini di acaranya dulu. Kalau nggak dibuka, kegiatan di dalamnya tak bisa terlihat.

 

Sel Bung Karno berada di lantai dua, sel nomor satu. Tepat di ujung blok, dekat pintu masuk. Dari pintunya saja, tampilan sel Bung Karno ini sudah berbeda sendiri. Selain bertuliskan “Bekas Kamar Bung Karno”, di sampingnya pun tertulis papan peraturan yang agak cukup aneh. Kalau soal harus melepas alas kaki, dan dilarang membawa alat komunikasi boleh lah. Tapi kalau soal peraturan diharuskan berwudhu, dan untuk perempuan yang sedang haid tidak diperbolehkan masuk sih agak mengundang tanda tanya. Peraturannya kok seperti akan memasuki hutan larangan yang biasa ada di kampung-kampung adat.

 

Aturan untuk dapat masuk ke dalam Sel Bung Karno

Ruangan sel Bung Karno di Lapas Sukamiskin ini jelas jauh lebih luas dibanding sel Bung Karno di ex Penjara Banceuy yang hanya berukuran 1,5 x 2 M. Yaa ibarat kos-kosan harga satu jutaan di Bandung. Ukurannya sekitar 3 x 4 meter, dengan kloset berada di bawah ranjang yang menempel di dinding. Kalau ingin buang air, Presiden Pertama RI ini bisa melipat ranjangnya ke atas.

 

Sementara itu, ada beberapa perabot sederhana seperti kursi, meja, foto diri, dan lemari. Beberapa perabotannya sepertinya terbilang baru. Karena memang nyaris tidak mungkin juga menyimpan sebuah barang yang berumur hampir seabad. Paling tidak, sudah rusak berat di makan rayap. Namun foto-foto diri Bung Karno tampaknya memang dibiarkan saja rusak oleh usia. Mungkin untuk memberi kesan jadul. Tapi yang pasti, bukan beliau yang memajang foto-foto tersebut. Karena foto-fotonya merupakan foto saat ia sudah menjadi presiden. Begitupun buku-buku karyanya yang terpajang di rak. Lalu di dindingnya, terdapat pula infografis yang menceritakan tentang sejarahnya di penjara ini.

 

Tempat tidur dan closet di dalam sel Bung Karno

Kami hanya diperbolehkan di dalam sel selama 15 menit. Namun beruntung, kami diperbolehkan untuk berfoto  di dalamnya. Kamera yang sejak masuk tadi ditahan oleh penjaga pun sudah dikembalikan. Setelah puas mengambil beberapa foto, saya pun bergegas keluar lebih dulu untuk merasakan kembali suasana blok tahanan. Tepat di dinding sebelah sel Bung Karno, ternyata terdapat mading yang berisikan daftar nama penghuni blok! Cukup banyak nama-nama familiar yang menghiasi daftar tersebut. Contohnya saja mantan Walikota Bandung Dada Rosada, serta the one and only, Setya Novanto. Rupanya, Pak Setnov ini mengisi sel nomor 3. Yang artinya, hanya berselang satu sel di sebelah sel Bung Karno. Sementara sel nomor 2 dibiarkan kosong. Namun kalau berita yang mengatakan bahwa ruangan sel Pak Setnov yang merubuhkan satu dinding agar bisa menikmati luas ruangan dobel benar adanya, maka saat itu ia berada tepat di samping tempat kami berdiri.

 

Sudut lain sel penjara Bung Karno

Sesungguhnya, saya tergolong orang yang bisa luar biasa merasa senang ketika mendapat pengalaman baru. Maka dari itu, berjalan di lorong-lorong penjara pun terasa membahagiakan buat saya. Ternyata, bangunan penjara itu tak ubah layaknya sebuah bangunan sekolah. Lapas Sukamiskin yang saya masuki pun sedikit banyak mengingatkan saya pada sekolah-sekolah yang masih menggunakan bangunan lama di Bandung. Ada gerbang besar, selasar, lapangan, dan sebuah lonceng besar. Ah.. rasanya bangunan SD saya pun desainnya seperti itu. Sayangnya, kondisi ini tak semuanya bisa diabadikan dalam helai-helai gambar digital. 

Baru pertama kalinya saya menonton film road trip yang diawali dengan penuh kemuraman. Gelap. Nyaris seperti pembawaan film DC Universe. Bandingkan saja dengan kebanyakan road film lainnya seperti “Kulari ke Pantai” atau “3 Hari Untuk Selamanya.” Walaupun ada konflik di dalamnya, film perjalanan selalu diawali dengan keceriaan. Bahkan termasuk film horror / slasher, awalnya pasti asyik-asyik dulu.




Dengan judul yang singkat dan cukup gamblang, Mudik memang langsung memberikan ekspektasi bahwa film ini bercerita tentang perjalanan pulang kampung yang menjadi budaya menjelang hari raya Idul Fitri di Indonesia. Walaupun ternyata, bukan itu ide utama yang ingin disampaikan Adriyanto Dewo yang duduk di kursi penulis skenario sekaligus sutradara film tersebut. Di sini, “mudik” justru hanya berfungsi sebagai latar waktu. Kalaupun misal film ini mengambil momen waktu yang berbeda, sepertinya nggak bakalan berpengaruh langsung deh ke dalam alur cerita. Walaupun, scene salat Ied di padang pasir memang terasa epik. Tapi impact-nya buat saya hanya sebatas impact visual semata.


Jalan cerita yang cenderung lambat di awal, sebetulnya cenderung memberi sedikit beban di kelopak mata. Tapi saya membayangkan juga, seandainya film Mudik tayang di bioskop dengan audio puoll, film ini akan jauh lebih menyenangkan. Karena adanya sedikit adegan dengan taste suspend di film ini yang dari lambat, tiba-tiba ke cepat, lalu menjadi menegangkan.


Dari sisi akting, Ibnu Jamil dan Putri Ayudya sukses membawa kemuraman Mudik dari awal sampai memuncak di bagian akhir. Masalah dan konflik, hadir secara bertahap, hingga kemudian meluluhlantakan emosi semakin mendekati ending. Oh..ya penampilan Asmara Abigail sebagai gadis Jawa yang lugu di film ini sangat mengingatkan saya pada perannya di “Perempuan Tanah Jahanam”. Apalagi dengan setting tempat di pedesaan. Sepertinya, kualitas aktingnya jauh lebih terasa dengan peran tersebut, ketimbang dengan menjadi “gila” seperti di “Gundala”.


Baca juga: Menguji Kejahanaman Perempuan Tanah Jahanam (No Spoiler Review)

Baca juga: Review Film Gundala: Simbol Perlawanan Rakyat Untuk Penguasa (No Spoiler!)


Mudik tayang exclusive di layanan streaming Mola TV mulai 28 Agustus 2020. Sesungguhnya, saya jadi meng-install Mola TV pun agar bisa menonton film ini. Untungnya, memang ada paket khusus untuk menonton Mudik tanpa berlangganan. Cukup membayar Rp17.000, saya sudah bisa menontonnya dalam batas waktu 24 jam sejak pembayaran, dan bisa ditonton juga di laptop. Cara pemasaran film seperti ini sebetulnya bisa jadi alternatif pendapatan bagi para pekerja film yang terdampak dengan penutupan bioskop seperti sekarang. Yaa, film ini cukup menjadi obat dari film-film berkualitas festival yang terpaksa harus mengalah karena pandemi. Jikalau FFI tetap akan terlaksana tahun ini, saya rasa Mudik akan berdiri di jajaran nominasi judul-judul juara.

Catchy dan fresh, itu kesan saya saat pertama kali menginjakkan kaki ke Zest Bandung sekitar tiga tahun lalu. Warna hijau daun yang tegas, berpadu dengan baik dengan warna lime yang cerah. Persis seperti melihat buah lemon.

 

Pemandangan Matahari Terbenam dari Gazebo Rooftop Zest Bandung

Selama empat tahun ke belakang, saya memang cukup sering mondar-mandir mampir ke sini. Dan dalam setiap kunjungannya, selalu ada saja hal baru yang diperkenalkan oleh hotel yang terletak di bilangan Sukajadi ini.

 

Saat terakhir berkunjung, diam-diam Zest Bandung sudah naik kelas dengan menyandang tiga bintang, sekaligus memperkenalkan tipe kamar terbarunya yang lebih nyaman dan lengkap. Setahun berselang, ternyata Zest Bandung kini punya rooftop!




Deretan Bean Bag dan Hammock di Clementine Rooftop Zest Bandung

Nggak cuma bisa melihat pemandangan Bandung dari ketinggian, tapi saya juga bisa bersantai dengan beragam fasilitasnya yang menyenangkan. Mulai dari bean bag yang berderet di area utara, kursi ayun di dalam sebuah gazebo yang cantik, dan dua buah hammock dengan view langsung ke arah matahari terbenam. Nah, ini juga yang menjadikan rooftopnya spesial dibandingkan yang lain, pandangan saya ke arah sunset sama sekali tidak terhalang bangunan lain. Buat saya yang memang suka memotret waktu perpindahan birunya langit menjadi jingga, tempat ini perfect.

 

Selain punya spot yang tepat untuk menikmati senja, tempat yang dinamakan Clementine Rooftop ini juga punya view 270⁰ ke seluruh penjuru Bandung. Di sebelah utara, saya bisa langsung memandang langsung Gunung Tangkuban Parahu yang berdampingan dengan Gunung Burangrang. Lalu jauh di selatan, nampak pula menara kembar Masjid Raya Bandung yang berlatar deretan pegunungan di Bandung Kidul yang indah. Memang karena lokasinya yang strategis berada di tengah-tengah Kota Bandung, makanya beberapa landmark di Bandung Raya dapat terlihat dengan jelas.

 

Pemandangan Gunung Burangrang Saat Senja dari Clementine Rooftop Zest Bandung

Clementine Rooftop ini juga ternyata bisa digunakan untuk acara intimate wedding ataupun acara gathering lainnya, lho. Desainnya memang suportif untuk itu. Makanya, selain ada bagian yang langsung beratapkan langit, ia juga punya sebuah ballroom yang bisa diatur dengan meja-kursi, serta pelaminan. Saat acara open house yang saya datangi kemarin pun, Zest Bandung menyediakan sebuah sample set-up pelaminan bergaya modern, sekaligus cantik. Lalu di sisi lainnya, terdapat pula jendela-jendela besar yang langsung menghadap pemandangan Bandung ke arah selatan. Jadi, Clementine Rooftop ini nggak sekadar fasilitasnya oke dan tempatnya strategis, tapi memang punya rancangan fungsional yang telah dipertimbangkan matang-matang untuk berbagai kebutuhan.

 

Untuk kapasitasnya sendiri, Clementine Rooftop sepertinya dapat menampung hingga 300-400 orang. Namun dengan kondisi pandemi seperti sekarang, Zest Bandung hanya bisa menerima separuhnya saja. Karena mereka cukup ketat menerapkan protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran Covid-19. Selain itu, saat kemarin menyantap jamuan pun, saya tidak diperkenankan untuk menyentuh peralatan makan, dan mengambil langsung makanan yang disediakan. Semuanya dipersiapkan melalui asistensi staff Zest Bandung yang sudah siap sedia membantu.

 

Selasar Clementine Rooftop Zest Bandung yang Dapat Digunakan Area Prasmanan

By the way, thanks for having me, Zest Bandung. Setelah cukup lama tak berkunjung, akhirnya bisa kembali mampir juga. So, untuk informasi lebih lengkap tentang Clementine Rooftop Zest Bandung ini bisa langsung saja menghubungi nomor (022) 8260 2060, atau bisa langsung mampir ke Jl. Sukajadi No. 16, Bandung.


Baca juga: Zest Hotel Sukajadi Bandung, Fresh Dan Instagrammable