Persib Juara Liga 2014 : Bandung Lautan Biru

Dari sekitar tanggal 5 November sampai 9 November 2014 adalah hari-hari dimana kota Bandung menjadi kota yang sangat berbeda, macet salah satunya, bukan macet karena wisatawan yang datang berkunjung pada waktu libur panjang seperti biasanya, karena kemacetan ini terjadi pada hari yang bukan merupakan long weekend, yak kota Bandung macet dikarenakan antusias masyarakat pada tim sepakbola kebanggaan Jawa Barat yaitu Persib Bandung melaju ke pertandingan final Indonesia Super League 2014 menantang sang juara bertahan Persipura Jayapura yang sudah menjadi langganan juara dan sudah meraih 4 bintang di dada kiri, situasi memang berbeda dengan Persib yang terakhir kali menjadi juara liga di edisi pertama liga Indonesia digulirkan pada musim 1994/1995, hampir 20 tahun tak pernah mengangkat trophy membuat animo masyarakat menjadi sangatlah besar, posisi lama tak pernah juara menjadikan Persib sebagai tim kuda hitam.

Ribuan bobotoh rela berangkat ke stadion Jaka Baring sampai-sampai ada sebuah hashtag unik beberapa hari sebelum itu yang dimulai oleh akun twitter @simamaung yaitu #modalfinal , untuk satu hari itu saja akun Simamaung menjadi akun FJB (Forum Jual Beli), @simamaung memfasilitasi para bobotoh yang ingin pergi ke Jakabaring dengan me-retweet semua tweet bobotoh yang menjual barang pribadinya yang menggunakan hashtag #modalfinal, sampai #modalfinal menjadi trending topic kala itu, dari mulai berjualan handphone, kulkas sampai motor dijadikan modal para bobotoh untuk mendapatkan tiket ke Palembang, tak hanya #modalfinal hashtag #buligirday menjadi trending topic juga saat itu, terjadi saat Persib Bandung berhadapan dengan Arema Cronus di semifinal, Persib yang kala itu mendapatkan hukuman tidak boleh menyaksikan laga tandang selama satu musim kompetisi, tidak diperbolehkan memasuki stadion Jakabaring, akhirnya para bobotoh yang sudah terlanjur jauh datang ke Palembang berinisiatif untuk membuka atribut persibnya sampai bertelanjang dada untuk dapat memasuki stadion, yang membuat saya merinding adalah bapak walikota Bandung Ridwan Kamil yang juga hadir saat itu di Jaka baring ikut membuka kaosnya dan mengomandoi serta menenangkan para bobotoh saat itu, saya sendiri yang hanya melihat berita di televisi dan social media ikut merinding dibuatnya, sorak dan applause bobotoh pun menyeruak di luar stadion Jaka baring, dan selama di pertandingan tersebut para bobotoh laki-laki pun menonton pertandingan dengan bertelanjang dada, tak hanya di Jaka baring, bobotoh yang menyaksikan pertandingan final secara nobar di Bandung pun ikut bertelanjang dada sebagai bentuk solidaritas.

Akhirnya tiba saat pertandingan final digelar, kota Bandung pun macet total, berbagai sudut kota Bandung menyelenggarakan pertandingan final, saya sendiri berencana menyaksikan pertandingan final di taman film Bandung, jyang akhirnya tidak jadi, karena tidak sempat, jangankan taman film balaikota saja tidak sampai. saya berangkat dari tempat tinggal saya di pagarsih jam 17.15 untuk menyaksikan pertandingan final yang diselenggarakan pukul 18.30, pukul 18.15 saya masih berada di depan viaduct, tidak dapat bergerak maju lebih lanjut ke arah balai kota, padahal jarak pagarsih dan balaikota tidak sampai 5 KM, akhirnya saya memutuskan membelokkan arah saya ke arah pasir kaliki mencari sekiranya ada cafe atau tempat nobar yang tidak terlalu penuh ataupun macet, dan pilihan saya memang tepat karena jalan di daerah pasirkaliki sama sekali tidak macet bahkan lowong, dan akhirnya karena saya sendiri sudah lumayan cape karena bergelut dengan kemacetan, saya memutuskan untuk berhenti di Istana Plaza, karena seingat saya ada beberapa toko yang memasang televisi di tokonya dan sering menayangkan pertandingan Persib. yah..dan setibanya saya di salah satu toko, saya sudah tertinggal sekitar 20 menit dan pertandingan sudah mendapatkan skor 1-1, benar-benar sangat pantas disebut pertandingan final, persib tertinggal lebih dulu oleh Persipura Jaya pura dan 2mampu membalikkan keadaan menjadi 2-1, hingga disamakan kembali pada akhir babak kedua, namun setelah dilanjutkan ke babak tambahan skor akhir tetap 2-2 dan masing-masing ada satu pemain dikeluarkan karena kartu merah, pertandingan dilanjutkan dengan babak adu penalty, di saat jeda persiapan adu penalty saya memilih untuk segera pulang dan melanjutkan untuk menonton pertandingan di rumah, karena bisa dibayangkan kondisi di jalan sehabis pertandingan nanti baik persib kalah ataupun menang, mungkin saya baru mencapai rumah tengah malam, dan Alhamdulillah saya sampai rumah tepat waktu saat babak adu penalty akan dimulai, ya karena jalanan masih lengang juga.

I made Wirawan menjadi pahlawan Persib saat itu dengan  berhasil memblok tendangan dari Ortizan Solossa. Jelas tangis haru memecah stadion saat Achmad Jufriyanto algojo penalty terakhir berhasil menjebloskan bola ke gawang Persipura, padahal saya nonton sisa pertandingan ini di rumah tapi sorak sorai pecah terdengar di sekeliling saya, saya rasa 90% warga setempat pun pasti menonton pertandingan ini.
Keesokan harinya tanggal 8 November 2015 puluhan ribu bobotoh berkumpul di sekitaran pintu keluar bandara husein sastranegara untuk menyambut kedatangan para pahlawan mereka sekaligus mengantarkan para pemain ke mess persib di stadion sidolig ahmad yani.

Saya sendiri lebih memilih untuk menunggu di stadion sidolig,lumayan pasti macetnya kalau ikut arak-arakan, di stadion sidolig yang masih kosong, saya bahkan menungu para pemain di atap stadion, demi mendapatkan foto jelas dari kedatangan para pemain, foto disamping adalah saat pemain belakang Persib Vladimir Vujovic memasuki pelataran stadion sidolig bersama keluarganya, saat itu Luna anak perempuan dari Vujovic agak sedikit ketakutan dan sampai menangis karena ramainya sambutan bobotoh saat itu.

Di dalam stadion para pemain masuk naik ke sebuah balkon, saya sendiri tidak tahu apakah memang balkon tersebut memang sudah ada sejak dulu sebagai tempat untuk mengangkat trophy di era perserikatan, karena di saat saya mulai menyukai dan mengikuti Persib, baru saat ini saya mengalami Persib yang meraih gelar juara.

Pesta tak berhenti sampai di hari itu, karena keesokan harinya skuad Persib dengan menggunakan Bus Bandros berkeliling Bandung dimulai dari bunderan cibiru Bandung timur dengan arak-arakan trophy ISL, saya memilih untuk menunggu di jembatan penyeberangan Asia Afrika depan gedung PLN karena posisinya strategis untuk melihat arak-arakan, walaupun pada akhirnya arak-arakan trophy bahkan tidak sampai ke tempat saya berdiri, sampai jam 6 sore pun skuad persib hanya mampu sampai di simpang lima asia afrika yang kemudian lanjut pulang ke mess, padahal sebelumnya rute sudah direncanakan agar melewati daerah jalan jendral sudirman dan jalan rajawali sampai akhirnya finish di gedung sate. Akhirnya saya pun pulang dengan sedikit kecewa, karena saya sudah menunggu sampai sekitar 4 jam dari jam 2 siang, tapi pemandangan yang saya lihat cukup menakjubkan dan membuat merinding, karena hanya pada hari itu, Bandung benar-benar menjadi lautan biru dalam arti kata yang sebenarnya, jalanan begitu padat dengan bobotoh bahkan untuk kendaraan bergerak pun hampir tidak ada ruang, yangbahkan saya dengar yangahdir pada pawai saat itu bukan hanya bobotoh Bandung saja, tapi bobotoh dari luar kota pun tumpah ruah di Bandung.








0 komentar:

Posting Komentar