Tradisi Adu Domba di Cijaringao

“Devide Et Impera”, saya selalu terngiang kalimat tersebut saat mendengar kata adu domba. Memang arti dari istilah Belanda itu adalah politik adu domba, biasanya ditemukan di buku Pendidikan Sejarah SD pada Bab mengenai VOC. Tapi bukan soal adu dombanya VOC yang akan saya ceritakan, namun memang benar-benar tradisi adu domba nyata yang dipertunjukkan di sebuah arena di kawasan Cijaringao, Cimenyan, Kabupaten Bandung.
 
Adu Domba di Cijaringao

Saat saya bercerita mengenai pengalaman menonton pertunjukkan adu domba di Cijaringao, tak sedikit kawan yang mengutuk tradisi asli Indonesia tersebut. Kebanyakan alasannya dikarenakan kasihan dengan hewan tersebut, “Hewan juga makhluk hidup, emang kamu mau diadu-adukan begitu?”, kata seorang kawan. Saya hanya tersenyum saja dan sedikit mengingat pertunjukkan adu domba yang kemarin saya saksikan seharian. Tak salah memang berpikir seperti itu, karena saya pun pada awalnya berpikiran serupa. Memang ada banyak hal yang tak diketahui orang-orang mengenai tradisi adu ketangkasan domba secara lebih jauh dan saya pun yang termasuk baru mengetahuinya setelah melihat langsung. 

Wasit berperan penting dalam adu ketangkasan domba

Bayangan saya sebelumnya mengenai adu domba tak terlalu jauh berbeda dengan apa yang disampaikan kawan saya. Memang kita sebagai manusia rasanya terlalu jahat mengadu-adukan hewan hanya untuk kepentingan pribadi manusia itu sendiri. Saya sempat berpikir ada uang yang berputar pada sebuah arena adu domba. Namun nyatanya, setiap pertandingan adu domba yang kira-kira berlangsung sekitar 10-15 menit tersebut tak pernah diketahui  pemenangnya. Setelah menyelesaikan 20 tandukan yang terbagi menjadi 2 ronde, wasit meniup peluit panjang untuk menghentikan pertandingan, dan domba-domba tersebut langsung dibawa oleh si pelatihnya keluar arena. Saya sebut mereka pelatih karena selama pertandingan berjalan, mereka tampaknya mengerti apa yang diinstruksikan oleh mereka, entah intruksi melalui sebuah gerakan tangan atau dalam bentuk perkataan yang hanya mereka berdua yang mengerti artinya. Bagaikan sebuah pertandingan tinju, saat sang domba terlihat kelelahan , wasit akan memberi kesempatan untuk pelatih yang mendampingi domba tersebut untuk memijat punggung atau bagian tubuh lain yang terlihat bermasalah.

Sang pelatih yang siap sedia memijat dombanya yang lelah dan pegal ketika pertandingan

Akhirnya saya pun mengerti mengapa tradisi adu domba saat digelar lebih sering disebut dengan adu ketangkasan domba daripada pertandingan atau pertarungan. Karena adu ketangkasan domba ini digelar memang bertujuan untuk menyalurkan naluri berkelahi yang dimiliki oleh domba species tertentu, dalam hal ini adalah jenis Domba Garut yang memang memiliki keunikan pada tanduknya yang berbentuk spiral. Nah bila Domba Garut ini tak dipenuhi hasrat bertarungnya, maka dia punya kebiasaan merusak sekeliling mereka, dengan menanduk apa saja yang mereka lihat, termasuk kandang mereka sendiri ataupun rumah si peternak. Untuk menyalurkan kebiasaan unik yang mereka miliki, maka dari itu dibuatlah adu ketangkasan domba secara rutin oleh masyarakat. Saya sendiri sempat melihat seekor domba yang berdiri di deretan tunggu domba yang akan bertarung ada yang sudah sulit sekali menaklukkan nafsu bertarungnya, sehingga di saat ia melihat domba lain berjalan menuju arena, bawaannya selalu ingin menanduk saja padahal belum tiba gilirannya.

Domba yang menunggu giliran bertanding

Saya juga sempat mendengar dari salah satu si empunya domba tentang keberadaan pertandingan adu domba yang melibatkan uang, dulu memang sering ada pertandingan adu domba yang mempertaruhkan nyawa salah satu domba yang diadukan, hadiahnya pun bisa sampai sebuah sepeda motor, namun sekarang sudah tidak ada lagi dan dibuat sebagai sarana olahraga sang hewan saja. Tak heran memang melihat hadiah yang diselenggarakan, mengingat harga domba yang ditandingkan saja bisa mencapai puluhan juta rupiah. Entah bagaimana cara pelatih mereka melatih domba-domba tersebut, yang jelas beberapa domba terlihat menonjol sekali otot-ototnya. Mungkin bila saya berkunjung ke peternakannya saya dapat melihat mereka push up atau scot jump, haha.

Setiap Domba diberikan arahan oleh pelatih

Sama halnya seperti olahraga beladiri yang dilakukan manusia, adu domba pun membagi kelas-kelas domba tersebut berdasarkan berat badannya menjadi kelas A, B dan C. Dan tentunya namanya pertarungan bela diri, terkadang ada saja yang mungkin mendapat memar setelah pertarungan usai, beungeup kalau kata orang Sunda bila ada seseorang yang mukanya babak belur karena bertanding tinju, namun masih dalam batas kewajaran.

Di Bandung, pertunjukkan adu ketangkasan domba sendiri sudah sangat jarang. Sebelumnya aktivitas ini rutin digelar di Babakan Siliwangi setiap minggu pertama di akhir bulan, namun dari terakhir saya dengar dari warga sekitar, pertunjukkan adu domba ini sudah tidak pernah diadakan lagi dikarenakan keterbatasan dana dari pihak penyelenggara. Selain itu saya juga pernah menemukan sebuah arena adu domba di daerah Cilimus Bandung, yang entah masih digunakan atau tidak. Dan baru di hari minggu kemarin (27/11) bertepatan dengan puncak acara #angklungpride6 yang diselenggarakan oleh Saung Angklung Udjo,  saya kemudian mengetahui bahwa di Jalan Padasuka Bandung terdapat sebuah daerah yang disebut dengan Cijaringao yang memiliki arena adu ketangkasan domba yang masih aktif di dalamnya. Cijaringao ini merupakan salah satu kebun bambu yang digunakan oleh Saung Angklung dalam mendapatkan bahan untuk memproduksi angklung setiap harinya. Minat melihat langsung domba-domba Garut ini beraksi? Tinggal datang saja di minggu terakhir setiap bulannya.
Gerbang masuk Kebon Awi Cijaringao


0 komentar:

Posting Komentar