Lost In Manteos Dina Hiji Waktos

“Kalau Jerman dulu ngeruntuhin Tembok Berlin, kita malah bangun Tembok Berlin sendiri di kampung”, begitu cerita Kang Edi dari Manteos. Manteos ini bukanlah sebuah daerah di dataran latin sana, nama ini merupakan sebuah kampung yang letaknya hanya sekitar 5 menit berkendara dari Jl. Dago Bandung. Memang di kawasan tersebut terdapat sebuah tembok besar dan memanjang membentengi salah satu bagian kampung. Bedanya, bila Tembok Berlin di Jerman berfungsi untuk memisahkan, Tembok Berlin di Manteos justru berfungsi untuk mempersatukan. Tempat ini merupakan ruang publik yang sering digunakan warga dan anak-anak untuk beraktivitas. Tembok Berlin yang ikonik ini menjadi satu dari sekian banyak hal menarik yang saya temukan saat berkunjung ke Kampung Manteos. Sedikit meminjam branding campaign yang sering disuarakan National Geographic yaitu “let’s get lost”, menjelajahi dan menyesatkan diri  pada setiap lekuk dari Kampung Manteos yang bagaikan labirin memberikan sebuah pengalaman tak terlupakan.

Perkampungan kota di Bandung tentunya bukan hanya Manteos saja, sebelumnya saya bersama dengan Komunitas Aleut pernah juga mengunjungi Cikapundung Kolot yang hilang, Blok Tempe yang revolusional, serta Cibuntu yang ternama. Namun tentu setiap kampung yang kami kunjungi memiliki keunikan yang membawa  cerita baru dalam setiap episodenya. Keunikan Kampung Manteos ini terletak dari struktur perkampunganya yang didirikan di Lembah Sungai Cikapundung, sehingga dari kejauhan kampung ini akan terlihat seperti rumah yang bertumpuk. Tampilannya sering digambarkan sebagai Rio De Janeiro-nya Kota Bandung, atau mungkin boleh saja kalau kita sebut Rio De Janeiro Van Bandoeng.
Tembok Berlin Kampung Manteos
Pemandangan Kota Bandung Dari Kampung Manteos
Nama Manteos memang terdengar seperti diambil dari bahasa Spanyol, saya berpikir bahwa nama tersebut memang merupakan sebuah wilayah yang berada di Spanyol atau Amerika Latin, bahkan sempat juga berpikir bahwa nama tersebut merupakan nama seorang pesepakbola yang bermain di La Liga. Walau ternyata bukan nama seorang pesepakbola, salah seorang kawan dari Komunitas Aleut mengatakan nama tersebut konon diambil dari seorang preman yang dulu tinggal di sana bernama Don Manteos. Kemungkinan nama Manteos tersebut merupakan adaptasi dari nama Mathius yang tergubah oleh lidah Sunda. Namun versi lain mengatakan bahwa Manteos dulunya merupakan nama sebuah gedung yang berdiri tak jauh dari kampung yang disebut Main House, lagi-lagi dikarenakan kearifan lidah lokal, maka warga menyebutnya dengan sebutan Manteos.


Begitu memasuki area Kampung Manteos, warna-warna cerah mulai  menggoda sudut mata untuk memindai tampilan wajah kampung yang ngejreng ini. Mural berbentuk segitiga warna-warni pada setiap penjuru dinding rumah yang kami temui di sekeliling Bale Warga memang sangat mencolok. Desain mural berbentuk segi tiga dipilih dengan alasan agar ketika cat pada dinding mulai memudar atau rusak, maka akan mudah diperbaiki oleh seluruh warga, bahkan oleh anak-anak sekalipun. Inisiasi untuk menggambar mural di sekeliling kampung datang dari tim Alumni Arsitektur Unpar tahun ’91. Proses penggambaran mural ini masih berlangsung hingga seluruh penjuru kampung berhasil terwarnai di akhir maret 2017 nanti.


Tak hanya dindingnya yang berwarna-warni, hidangan yang disajikan untuk kami saat itu pun sangat berwarna dan cukup memberikan bekal untuk mengarungi perjalanan keliling kampung. Kelepon, Getuk dan secangkir Bajigur hangat, kombinasi tepat yang sedikit mengobati kerinduan saya akan jajanan tradisional. Mungkin sudah bertahun-tahun lamanya lidah saya tak merasakan getuk yang ditaburi kelapa serut seperti ini. Cemilan-cemilan ini tentunya sudah sangat sulit ditemukan di penjuru Kota Bandung.
Jajanan Tradisional Suguhan Warga Kampung Manteos

Tak jauh dari Bale Warga, terdapat konsep pembangunan Kampung Manteos yang disajikan melalui infographic apik yang ditempel di salah satu dinding rumah warga yang cukup membuat kami terpukau. Karena dalam kunjungan kami ke berbagai kampung kota selama ini, baru di Kampung Manteos saja sebuah planning concept diinformasikan dengan cukup baik. Hal ini menandakan keseriusan berbagai pihak yang mendukung kemajuan pengembangan kampung ini.
Infografis Kampung Manteos

Mungkin benar kata seorang kawan yang menjuluki Kampung Manteos ini sebagai kampung seribu tangga, karena sepertinya kami menuruni anak tangga yang takkan ada habisnya. Padahal ini baru turun, bisa dibayangkan saat kami kembali naik ke area Bale Warga nantinya. Di tengah jalan, kami juga menemukan selang yang jumlahnya cukup banyak berada di samping setiap jalan yang kita lewati. Saat kita telusuri, selang-selang tersebut mengarah pada sebuah ruangan kecil di sebuah bangunan. Pak Yayat, seorang warga yang menemani perjalanan kami mengatakan bahwa di dalam ruangan tersebut terdapat sebuah mata air. Dari mata air inilah warga mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari mereka, karena warga Kampung Manteos memang tidak dipasok air ledeng.


Akhirnya kami pun tiba di Tembok Berlin yang melegenda. Dan nampak semua warga di sini pun kompak menyebut tembok ini dengan sebutan Tembok Berlin. Awalnya tembok ini dibangun untuk digunakan sebagai jalan mobil, namun ternyata karena pembangunannya kurang tersampaikan dengan baik kepada warga lainnya, akhirnya pembangunan tembok ini terbengkalai. Dari tembok ini pun kami dapat melihat panorama Kota Bandung dari sudut yang tak pernah kami jumpai sebelumnya. Kami dapat melihat rumah-rumah kecil yang bertumpuk dan mengelilingi beberapa raksasa beton yang mulai mengisi langit kota ini.
Perjalanan menembus Kampung Manteos

Dari Tembok Berlin kami beranjak turun sampai menemukan aliran air Sungai Cikapundung. Hal baru yang saya temukan di sini adalah warna aliran air Cikapundung yang terbilang masih cukup bening. Walau sejak tahun 2005 warga sudah tak pernah menggunakan aliran air ini untuk mandi dan mencuci baju karena mulai kotor, air Sungai Cikapundung yang mengalir di samping Kampung Manteos cukup bersih bila dibandingkan dengan daerah aliran air Sungai Cikapundung yang melintasi Jl. Asia Afrika dan sudah terlihat seperti air Bajigur. “Nah Bajigur yang tadi kalian minum teh langsung kita ambil dari sini,  cuma kita panasin aja”, canda Kang Edi yang kemudian disambut gelak tawa seluruh peserta ngaleut Manteos.
Aktivitas anak-anak di pinggir aliran Sungai Cikapundung yang melintasi Kampung Manteos

Walau sudah tidak dipergunakan untuk mandi dan mencuci pakaian, warga masih sering berkegiatan di bantaran sungai. Saat itu saya melihat anak-anak yang tadi berlarian di Tembok Berlin sedang berlomba melempar batu di pinggir sungai. Beberapa meter di sampingnya, terdapat dua pemuda yang terlihat asyik dengan kail pancingnya. Saya sempat bertanya pada salah satu pemuda tersebut, “kang laukna seueur kitu?”. “Oh lumayan da ayaan keneh, seueur”, jawabnya. Hal ini menandakan aliran air di dekatnya masih memiliki kualitas yang cukup baik, hingga ikan masih dapat hidup di dalamnya.


Hal lain yang cukup menarik perhatian saya di aliran Sungai Cikapundung yang melintasi Manteos adalah terdapat banyak sekali batuan datar di pinggir sungai. “Ya dulu warga mencuci pakaian di batu-batu itu”, ujar Pak Yayat yang dijuluki white lion oleh kawan-kawannya karena rambutnya yang sudah memutih seluruhnya. Saya pun sempat melihat kabel-kabel yang melintasi bagian atas sungai dengan jumlah cukup banyak. Sebelum saya mulai bertanya, nampaknya Pak Yayat sudah menangkap raut kebingungan di wajah saya. “Nah yang itu bukan kabel, itu selang air yang berfungsi mengambil air dari sela-sela cadas. Selain dari mata air tadi, ada beberapa warga yang mendapatkan air dari aliran air yang mengalir di antara batuan cadas”, tambah Pak Yayat.
Batu yang dulu digunakan untuk mencuci pakaian di pinggir sungai Cikapundung
Selain itu, rupanya terdapat beragam kisah unik yang menghiasi warga Kampung Manteos yang tinggal di bantaran Sungai Cikapundung ini. Salah satunya adalah kisah tentang leuwi beurit yang seringkali mengeluarkan suara mirip gamelan di malam hari. Kisah lainnya datang dari satu jembatan yang menjadi jalan satu-satunya warga untuk menyeberang sungai. Dahulu jembatan besi tersebut pernah hilang selama beberapa hari setelah hujan yang cukup deras. Awalnya warga menyangka kalau jembatan tersebut hanyut oleh banjir, namun setelah menelusuri sungai, jembatan tersebut tidak ditemukan. Setelah berhari-hari, dengan ajaib jembatan tersebut kembali muncul di tempat semula, hanya saja dengan bentuk yang melengkung dari bentuk yang sebelumnya lurus.
Jembatan misterius yang pernah hilang
Jembatan ajaib tadi menjadi titik perhentian terakhir kami dalam penjelajahan Kampung Manteos, sebelum kembali ke Tembok Berlin untuk berkumpul bersama kawan-kawan yang lain. Setelah semua peserta ngaleut berhasil finish di Tembok Berlin, Ipin salah seorang kawan kami yang merupakan ahli tumbuhan menceritakan pengalamannya menemukan banyak sekali tumbuhan obat di sekeliling Kampung Manteos. Yang jelas bukan nama-nama tumbuhan yang bisa saya hapal dalam sekali dengar, kecuali tumbuhan Kikorejat yang mampu menyembuhkan sakit mata.


Setelah mendengarkan paparan Ipin soal kekayaan flora yang dimiliki oleh Kampung Manteos, acara dilanjutkan dengan game. Dan baru kali ini saya mengikuti kegiatan ngaleut dengan agenda game di dalamnya. Game ini pun dipandu oleh warga Kampung Manteos dan cukup membuat saya terkesan. Dari kepiawaiannya dalam memimpin game, saya rasa mereka sudah rutin memberikan game pada setiap rombongan yang berkunjung sebagai bagian tour de Manteos.
Game seru yang dipandu warga Kampung Manteos

Tour De Manteos hari ini ditutup oleh penampilan anak-anak dari Kampung Manteos yang sudah berlatih semalaman. Nantinya mereka akan tampil kembali dalam sebuah acara yang akan diselenggarakan tanggal 18 Maret 2017 nanti. Selain itu, saat ini beberapa pemuda kampung sedang mengikuti pelatihan juga untuk menjadi barista. “Nantinya bakal ada kedai kopi keren di Manteos, tunggu tanggal mainnya”, cerita Kang Edi yang menjadi jubir sejak pagi tadi.
Penampilan seni dari anak-anak Kampung Manteos
Kang Edi dan warga Kampung Manteos lainnya memang mengharapkan kampung mereka dapat lebih banyak dikenal dan dikunjungi orang. Program-program menarik telah mereka siapkan untuk membuat kunjungan ke Kampung Manteos menjadi berkesan. Salah satu program yang disiapkan adalah membuat amazing race dengan rute keliling Kampung Manteos ini. Keunikan struktur kampung yang berundak-undak akan menjadi tantangan tersendiri bagi peserta race yang berpartisipasi. Tertarik bertualang menjelajahi lekuk tubuh Kampung Manteos? Langsung datang saja ke Kampung Manteos yang terletak di Kecamatan Coblong, tepat di belakang bangunan Komplek Dinas Psikologi Angkatan Darat. Let’s Get Lost in Manteos!

0 komentar:

Posting Komentar