Explore Tasikmalaya Part 3: Mentari Hati

Tujuan terakhir saya di Tasik ini paling tak lazim dibandingkan dengan tempat-tempat yang sebelumnya dikunjungi. Mentari Hati bukanlah sebuah kedai kopi, ataupun taman kanak-kanak, apalagi judul lagu ciptaan Bung Fiersa. Nama tersebut melekat kepada sebuah yayasan yang berfungsi sebagai mental hospital bagi para penderita gangguan kejiwaan yang terlantar di Tasikmalaya. Dan tempat inilah yang kemudian direkomendasikan Wildan untuk saya datangi pada hari pamungkas liburan saya April tahun lalu.
Mentari Hati didirikan lebih dari satu dekade lalu oleh Pak Dadang Heryadi yang merupakan mantan pegawai PLN. Melihat wajah dan perawakannya, ia masih terlihat cukup muda, mungkin masih sekitar 40 tahunan. Itu artinya, saat dia memutuskan untuk resign dari PLN, usianya sangatlah muda. Pagi itu pun kami berbincang, berkenalan, sekaligus mendapat banyak insight baru dari beliau.

Jangan bayangkan sebuah rumah sakit layaknya seperti yang kalian lihat di film Joker. Karena Yayasan Mentari Hati hanyalah sebuah rumah berukuran sedang, dengan halaman yang sangat luas. Semua pasien di sini sama sekali tidak diketahui keberadaan keluarganya, sehingga tidak memungkinkan bagi Pak Dadang sebagai pengelola mendapatkan biaya perawatan. Ia mengaku bahwa pengelolaan yayasannya tersebut betul-betul mengandalkan donasi dari relawan.
 
Pak Dadang Heryadi, Founder, dan Pengelola Yayasan Mentari Hati
Setelah sowan, kami pun diizinkan untuk masuk ke dalam lapangan. Dari gesturnya yang santuy, nampaknya ini bukan kali pertama bagi Wildan berkunjung kemari. Sedangkan saya. Saya berjalan mengendap dengan perasaan was-was, layaknya maling yang hendak menggondol perhiasan emas dari lemari rumah orang. Ya, mau gimana lagi, ketemu satu orang di jalan pun sudah ngeper duluan. Nah ini harus berhadapan dengan 120 orang sekaligus dalam satu tempat yang dibatasi pagar. 

Tapi rupanya, perasaan hati dag dig dug itu hanya muncul 30 menit pertama saja. Detik, dan langkah selanjutnya yang ditempuh kemudian terasa lebih lepas, ketika saya menyadari bahwa tak ada hal yang perlu ditakuti dari mereka. Mereka pun manusia biasa. Awalnya, memang mungkin saya takut akan ada tindakan-tindakan yang tak diduga. Tapi justru, tindakan yang diduga dari mereka itu sangatlah hangat, dan manis. Saat mereka melihat kamera yang dikalungkan di leher saya, dengan spontan mereka meminta foto, sambil saling berlomba berpose dengan gaya paling gokil. Semakin lama saya berdiri di sana, saya semakin merasa biasa saja, dan sedikit lebih bisa mendalami apa yang mereka rasakan. Walau kadang, gerakan mereka tuh aneh, bagai hidup masing-masing, seperti terlihat tidak terkoneksi satu sama lain dengan orang, ataupun benda di sekelilingnya.

Suasana sarapan di Yayasan Mentari Hati

Dari seluruh kawan-kawan Mentari Hati, tentu tingkah polahnya tak semuanya sama. Sama saja seperti kita di dalam sebuah lingkungan sekolah atau kantor. Ada yang bawel, lincah,  pendiam, atau bahkan terlihat seperti seorang pemimpin bagi kawan-kawannya yang lain. Tapi memang, beberapa di antaranya ada yang terlihat agak lebih parah sakitnya, sehingga ketika ia diberi makan di atas piring plastik, ia sengaja menumpahkannya ke tanah, lalu memungut butiran-butiran nasi tersebut dari tanah untuk baru kemudian ia makan. Foto-foto yang saya pilih untuk ditampilkan di sini memang lebih memperlihatkan kawan-kawan yang secara gaya berpakaian, dan aktivitas, tampak lebih sehat. Tak tega rasanya untuk menampilkan foto yang terlalu ekstrim.

Setelah hampir dua jam berada di area lapangan, saya dan Wildan pun keluar pagar. Setelah saya keluar, ada seorang bapak dari dalam yang memanggil saya kembali. Rupanya ia meminta diambilkan beberapa puntung rokok yang berada di sekitar kaki saya. Padahal dia sendiri sedang merokok. Pak Dadang yang melihat kejadian tersebut, melarang saya untuk memberikannya. Sepertinya bapak tadi mencoba untuk memperpanjang kenikmatan dari menyesap rokok yang sebetulnya sudah sangat pendek pula di jarinya. Namun, saya heran juga, kenapa ada banyak sekali puntung rokok di sini. Apakah kawan-kawan Mentari Hati ini memang diizinkan ke warung untuk beli garfit? Pak Dadang pun berkilah mendengar dugaan saya. Ia bercerita hal ini dikarenakan banyak supir-supir truk antar kota yang mangkal tepat di belakang yayasan ini. Saat malam, mereka sering sekali menjadikan area depan yayasan ini untuk merokok, dan mabuk-mabukan. Ia pun kemudian menunjukkan beberapa botol kaca yang tergeletak beberapa meter dari tempat kita berbincang.
 
Beberapa Kawan Mentari Hati berpose dan minta untuk dipotret
Karena matahari sudah semakin tinggi, dan udara semakin panas, saya dan Wildan pun kemudian mengucapkan terima kasih, dan berpamitan dengan Pak Dadang. Sungguh sebuah pengalaman yang luar biasa bagi  saya  pribadi. Kunjungan saya ke Mentari Hati berhasil mengubah stigma yang saya pendam terhadap kawan-kawan dengan gangguan kejiwaan, bahwa mereka sebetulnya bukan untuk ditakuti, tapi untuk dibantu. Sebetulnya, saya sempat diberi saran oleh seorang kawan di komunitas street photography di Bandung, untuk membuat sebuah project foto mengenai hal ini. Dengan tujuan, dapat menularkan stigma saya yang sudah berubah terhadap mereka ke lebih banyak orang. Namun hal ini, belum dapat terwujud, dikarenakan keterbatasan waktu, energi, dan biaya. Mau bagaimanapun, memang fotografi bukan pekerjaan utama saya. Tapi, semoga suatu saat nanti, ide yang disarankan ini bisa saya perjuangkan.


Baca juga: Explore Tasikmalaya Part 2: Santri, Masjid, dan Cirahong

Yayasan Mentari Hati
Jl. K. H. E. Z. Muttaqin, Mangkubumi
Tasikmalaya
Donasi:
Bank Mandiri a/n Yayasan Mentari Hati Tasikmalaya 131.00.1199.7642
Contact Person: 0852 2322 3239 / 0852 2236 6615 (Dadang Heryadi)

0 komentar:

Posting Komentar