Pak Ujang, Ribuan Kepala dan Ribuan Cerita

Delikan hampa dari ruang mata kirinya yang kosong di balik lensa kacamata yang tebal sedikit menggoda rasa ingin tahu saya akan cerita dibaliknya, namun niat untuk bertanya diurungkan, sekedar untuk menjaga perasaan karena kami belum sedekat itu. Sebagai ganti, ruang pandang di sebelahnya bergerak aktif menyisir area yang belum terjamah. Disusul sepersekian detik tangannya yang saling bersahutan lihai menggunakan berbagai alat potong yang ia asah setiap sore hari. Dari balik pantulan cermin persegi panjang yang sudah patah di sisi kanannya, pelanggannya hari ini sesekali mengintip, memastikan pekerjaan sang tukang cukur berjalan dengan baik.



Pak Ujang namanya, seperti kebanyakan tukang cukur lainnya, ia pun berasal dari Kota Garut. Entah bagaimana sejarahnya, ia pun tak tahu pasti mengapa kebanyakan tukang cukur berasal dari Garut, termasuk ia yang sebelumnya dibawa ayahnya dulu untuk membuka jasa cukur  rambut di Bandung. Kini dengan mewarisi keterampilan yang almarhum ayahnya ajarkan, ia sudah memiliki usaha jasa cukur rambut sendiri di Jalan Teri bertetangga dengan gudang-gudang penyimpanan ikan milik para pengusaha di Pasar Andir Bandung.

Sebagai seseorang yang bekerja di industri yang lekat hubungannya dengan gaya, penampilan Pak Ujang di usianya yang menginjak usia 75 tahun ini pun tak mau kalah kekinian dengan anak muda jaman sekarang. Rambut hitam slicked back berkilauan tertimpa sinar matahari, efek olesan pomade yang ia gunakan setiap harinya sebelum berangkat membuat ia tampil trendy masa kini. Tak lupa kemeja dan celana katun rapih selalu ia gunakan di kesehariaannya menambah kesan dandy  percaya diri.

Bisnis barbershop Pak Ujang ini ia bangun bergaya semi-outdoor dengan menggunakan atap teras sebuah gudang persediaan ikan dan sebuah spanduk bekas untuk menutupi bagian belakangnya, sedangkan bagian samping kiri dan kanan ia biarkan terbuka untuk sirkulasi udara. Saat ia memulai bisnisnya pada tahun 60-an, terdapat 8 orang kapster asal Garut termasuk dirinya yang berbagi lapak jasa cukur di sepanjang Jalan Teri. Hingga pada tahun 2016 ini, tersisa hanya Pak Ujang dan Pak Arun sahabatnya, yang membuka jasa cukur di area tersebut, sedang 6 teman seangkatannya sudah meninggal dunia.

Pada tahun 1963, saat pak Ujang memulai usahanya, ia masih berusia 22 tahun dan berstatus bujangan. Artinya sudah 53 tahun ia menjadi tukang cukur dan telah mencukur ratusan ribu rambut dari kepala berbagai macam orang. Beberapa diantaranya yang saat pertama kali dicukur ketika masih kecil oleh Pak Ujang datang kembali untuk minta dicukur rambutnya, dan mereka banyak yang sudah menjadi pengusaha besar ataupun pejabat. Ada pula orang dari luar pulau yang sebelumnya pernah merantau di Bandung saat muda, kemudian saat mereka sedang mengunjungi Bandung, mereka sempatkan untuk mencukur rambut mereka di Pak Ujang.

Tukang cukur memang memiliki peran merapikan rambut yang berantakan sehingga sang pelanggan dapat tampil lebih baik di depan umum, namun tanpa kita sadari peran mereka lebih dari itu. Karena saat sang kapster sudah membentangkan kain penutup ke badan pelanggan mereka, disitulah para orang-orang yang duduk di kursi panas mulai bercerita tentang apa saja. Ada yang mengajak diskusi persoalan politik negeri, ada juga yang berbicara tentang pertandingan klub sepakbola kesayangannya, dan bila sudah merasa cukup dekat dan intim dengan sang kapster, mereka pun tak ragu berkonsultasi tentang permasalahan pribadinya. Bisa dibayangkan, Pak Ujang yang sudah puluhan tahun menekuni usahanya sebagai tukang cukur telah mendengar ratusan ribu cerita yang berbeda-beda setiap harinya. Berbagai perspektif, paradigma dan karakter telah ia temui hanya dengan berdiri di balik cermin dan memegang gunting serta pisau.

50 tahun berlalu, Pak Ujang kini telah memiliki 5 orang anak dan 5 orang cucu yang masih bersekolah, namun belum ada yang meneruskan usaha dan keterampilannya.
50 tahun berlalu, tempat yang sama, profesi yang sama, kota yang berubah muka, rekan yang hilang dan menua, namun tersimpan ribuan cerita dari ribuan kepala.

0 komentar:

Posting Komentar