Ratapan Burung Blekok

“Katanya cinta.. 
Nyatanya cuma kata..
Katanya iya..
Besoknya lupa..
Bilangnya sih indah..
Tapi malah bikin resah..
Kalau memang mau berdampingan..
Seharusnya jangan menghancurkan..”


Mungkin begitu yang diratapi oleh burung blekok yang tinggal di Kampung Blekok, Rancabayawak Kota Bandung bila mereka punya akal dan perasaan di saat pohon-pohon bambu dimana mereka tinggal saat ini ditebang satu-persatu untuk dijadikan pohon beton.
Burung Belekok di Kampung Belekok
Burung Blekok, mendengar namanya saja, banyak teman saya yang tertawa. Rupanya blekok ini masih kurang familiar di telinga orang Sunda, mereka lebih tau tentang bekok (kentut) dibanding blekok, mereka tertawa karena kedua kata tersebut senada. Baru ketika memakai istilah belibis, mereka dapat membayangkan lebih serius, walaupun tak bisa membayangkan secara sempurna bentuk burung belibis itu seperti apa
.
Mungkin sudah ratusan tahun lamanya burung blekok tinggal di Rancabayawak yang sesuai dengan namanya yang berarti rawa biawak. Dan memang habitat asli burung blekok ini adalah di rawa-rawa, maka tak aneh kalau burung ini memilih untuk tinggal di kawasan Rancabayawak walaupun sekarang daerah ini sudah bukan sebuah rawa.

Species Burung Kuntul yang juga hidup di Kampung Belekok

Banyak orang salah mengira antara blekok, bangau dan kuntul. ketiganya punya kesamaan yaitu pemakan ikan, yang otomatis akan sangat terlihat kemiripannya pada bentuk paruh. Bila diurutkan menurut panjangnya leher , burung blekok memiliki leher yang paling pendek diantara ketiga burung tersebut serta kakinya pun paling pendek. 

Burung blekok merupakan salah satu hewan yang terancam keberadaannya di Bumi karena habitatnya yang mulai tiada untuk kepentingan hidup manusia. Namun siapa sangka burung blekok yang langka ini bisa ditemukan dalam jumlah sangat banyak di Kota Bandung, bahkan lokasi dimana burung blekok ini membuat sarang kini diberi nama Kampung Blekok. Lokasi Kampung Blekok ini terletak hanya sekitar 10 menit dari perempatan Gedebage-Soekarno Hatta Bandung, tepatnya di Kampung Rancabayawak Bandung. Kedekatan lokasi Kampung Blekok ini dengan kota bagaikan pedang bermata dua, di satu sisi wilayah ini memiliki potensi wisata yang sangat besar apabila dapat dikembangkan, di sisi lain lokasi luas yang terbilang masih dekat dengan perkotaan ini mulai menarik minat manusia untuk mendirikan sesuatu yang dapat merusak ekosistem alam di habitat asli burung blekok ini demi kepentingannya sendiri.
Masjid yang digunakan untuk melihat Burung Belekok dari dekat


Tak hanya burung blekok, di Kampung Blekok ini terdapat juga spesies burung kuntul yang lehernya sedikit lebih panjang dibanding burung blekok. Burung yang mirip dengan maskot di lambang klub sepakbola Liverpool ini dapat terlihat berjumlah ratusan terbang dan bertengger di pohon bambu yang tumbuh di sekitar kampung bersama burung blekok. 

Sebuah masjid megah dengan kubah ala Istambul, Turki pun hadir di dekat sebuah pohon bambu dimana mereka bertengger, agar para wisatawan yang berkunjung dapat melihat dengan lebih jelas keindahan burung blekok dan kuntul ini. Potensi wisata  tersebut masih sangatlah besar mengingat beberapa fasilitas pendukung yang dijanjikan berbagai pihak untuk dapat hadir di Kampung Blekok belum juga terrealisasi, seperti kehadiran tempat kuliner dan penginapan untuk wisatawan yang mengejar keindahan burung tersebut saat matahari terbit maupun terbenam. Di tahun 2015 saja Wisata Kampung Blekok ini dapat menarik perhatian dengan menghadirkan perwakilan wisatawan dari 86 negara untuk ikut melestarikan keberadaan burung blekok dengan membantu menanam pohon untuk dihinggapi blekok. Sayangnya tak sampai satu tahun keberadaannya, pohon-pohon tersebut sudah tergusur kembali oleh manusia. Kini burung blekok mungkin sedang meratapi nasibnya saat tempat tinggal keluarganya yang sudah ratusan tahun ditinggali hanya berjarak ratusan meter dari burung besi raksasa yang sedang menggaruk halamannya.


“Dipuji-puji namun kerap disakiti,
 layaknya sebuah janji yang kemudian dikhianati”

0 komentar:

Posting Komentar