Menyicipi Sajian Mongolian Malatang Hotpot yang Kaya Akan Rempah

Mendengar nama Mongolia, saya langsung teringat akan serial Return of The Condor Heroes yang dimainkan oleh Andy Lau dan Carman Lee pada masa lebih dari dua dekade silam. Dalam serial tersebut, tokoh Yoko dan Bibi Lung yang mereka perankan diceritakan bermusuhan dengan ‘Tentara Mongol’ yang kerap disebut dalam setiap episodenya. Mungkin, karena dari cerita Tiongkok tersebut saya pertama kali mengenal nama Mongol, maka tak heran bila ingatan saya tentang negara di Asia Timur tersebut sangat berkaitan erat dengan kisah si pendekar rajawali. Hal itu pula yang menjadi faktor ketertarikan saya untuk menyicipi Malatang Hotpot, yang merupakan hidangan khas Mongol, ketika menjumpainya di Bandung.
Malatang Hotpot, hidangan tradisional khas Mongolia
Hidangan Malatang Hotpot ini saya temukan saat berkunjung ke Paskal Food Market di area Paskal Hyper Square Bandung. Sebuah kedai ber-plang Golden Monkey-lah yang menyediakannya. Anyway, ternyata nama Mala pada Malatang ini merupakan jenis rempah-rempah yang berasal dari Asia Timur. Cukup asing memang. Karena yang saya tahu hanya pala, yang sebetulnya berbeda dengan mala.


Biji mala ini bentuknya kecil-kecil, mirip dengan ketumbar. Aromanya harum. Namun jangan salah, ia memberikan rasa pedas di lidah, hingga rasanya seperti terbakar. Saat berkesempatan berbincang dengan pemiliknya, yakni Ci Derza, saya diberikan beberapa biji mala untuk dicoba. Padahal saya hanya menggigitnya sekali, lalu saya lepehkan keluar dari mulut, tapi rasa pedas masih tertinggal di lidah. Semakin lama, lidah saya merasakan sensasi baal, seperti kesemutan, atau seperti digigit sesuatu, yang kelamaan makin menguat. Tidak seperti rasa pedas dari cabai, rasa pedas biji mala ini sangat betah tinggal di mulut, hingga beberapa menit. Sungguh efek yang luar biasa. Walaupun begitu, rasa pedas yang unik itulah yang justru membuat saya kemudian semakin penasaran untuk mencoba Malatang Hotpot.

Walaupun namanya Golden Monkey Malatang Hotpot, tapi ternyata tempat ini tak hanya menghidangkan menu hotpot, tapi juga menyediakan Beef Barbeque Saus Mala yang tetap mempertahankan ciri khasnya dengan menggunakan bahan rempah biji mala. Kedua hidangan tersebut disajikan langsung dengan kompor, wajan, dan panggangannya, sehingga pengunjung dapat memasaknya sendiri sesuai dengan tingkat kematangan yang dikehendak. Selain itu, melihat bagaimana daging, sayur, dan bahan lainnya perlahan menjadi matang dengan bunyi didih yang khas bisa menjadi sebuah kepuasan tersendiri.

Menu hotpot di sini disajikan dengan dua jenis kuah, yaitu kuah mala dan kuah kaldu. Tentu saja kuah mala menjadi pilihan saya dan kawan-kawan saat itu. Itulah alasan kami datang ke Golden Monkey Malatang Hotpot sore itu. Selain mala, di dalam wajan berukuran sedang dengan kuah mendidih tersebut terdapat pula banyak rempah-rempah lainnya, seperti pala, kapulaga, cengkeh, andaliman, anistar, bawang putih, yang kalau kata orang Sunda mah aromanya nyegak, sangat strong. Sedang untuk komponen utama di dalamnya terdapat selada air, sawi putih, jamur, tahu, baso salmon, crab stick, daging ayam, dan daging sapi.

Untuk rasanya, ya.. sesuai saat seperti menggigit biji mala sebelumnya, rasa pedasnya membuat lidah seperti terbakar, namun sekaligus menghangatkan tenggorokan, serta menyegarkan badan. Kondisi badan saya yang saat itu sedang pilek pun terasa enak, dan pedasnya sama sekali tidak membuat perut menjadi panas. Aroma dari biji mala pun jelas tercium, dan bercampur dengan rempah-rempah lainnya yang membuat rasanya menjadi sangat unik. Dengar-dengar dari Ci Derza, malah si Malatang Hotpot ini telah diakui UNESCO sebagai salah satu warisan kebudayaan dunia. Hanya saja, rasanya yang dihidangkan ke kami ini sudah sedikit dimodifikasi dengan lidah lokal, sehingga sedikit lebih asin. Hal menariknya adalah rasa asinnya pun tidak menggunakan garam atau MSG, hanya menggunakan rempah-rempah tok.

Bila ingin mencoba rasa original dari Mongolnya pun sebenarnya bisa. Kita tinggal memesan Malatang Hotpot dengan level extreme. Katanya rasanya akan persis sama dengan rasa asli di negaranya, rasa pedasnya akan membuat kita bahkan tidak dapat merasakan rasa asinnya lagi. Benar-benar pedas yang membuat lidah super kebas, ditambah sensasi jontor pada bibir. By the way, hotpot yang saya dan kawan-kawan santap ini levelnya masih medium, dua level di bawah extreme level.

Di samping hotpot-nya, kami pun tentu menjajal juga rasa dari Barbeque Saus Mala. Keistimewaan menu ini tentu terletak pada saus mala-nya yang merupakan ekstrak dari 18 rempah-rempah yang kemudian dimarinasi di permukaan dagingnya. Kekayaan rempah-rempah tersebut menyerap dengan sempurna pada setiap inci dagingnya, sehingga memberikan sentuhan rasa yang belum pernah saya cicipi sebelumnya. Tapi yang pasti, rasa spicy-nya yang khas dari biji mala, melekat juga pada menu ini.
Barbecue Saus Mala ala Golden Monkey Malatang Hotpot
Malatang Hotpot ini dibandroll dengan harga mulai Rp60.000 per porsi reguler. Kebetulan untuk porsi yang saya makan bersama teman-teman itu adalah porsi besarnya yang cukup untuk 3-4 orang. Bahkan menurut saya sih, bisa disantap oleh 5 orang juga, mengingat saya yang datang bertiga pun tidak sanggup menghabiskan seluruh makanan ini, karena porsinya yang sangat banyak.

Selain di Paskal Food Market, Golden Monkey Malatang Hotpot ini juga bisa dinikmati saat kita berjalan-jalan di kawasan kuliner Sudirman Street, serta rencanya akan dibuka juga cabang ketiganya di Bandung yang berada di Pasar Cisangkuy. Bagi yang suka masakan pedas, menu ini sangat direkomendasikan untuk dijajal. Berani mencoba?
Suasana menjelang malam di depan kedai Malatang Hotpot di Paskal Food Market


0 komentar:

Posting Komentar