Review Film Gundala: Simbol Perlawanan Rakyat untuk Penguasa (No Spoiler!)

Hari ini saya melangkahkan kaki ke bioskop dengan bermodal sedikit pengetahuan saja tentang Gundala. Saya tahu wujud dan namanya cukup lama, tapi masih kalah akrab dengan sosok Si Buta dari Gua Hantu yang sempat nongol di layar kaca. Awalnya saya mengira Gundala ini secara fisik mirip, dan memiliki kekuatan seperti The Flash. Namun ternyata, kekuatannya jauh berbeda, walaupun sama-sama mendapat kekuatan dari petir. Malah, kisah Sancaka yang menjadi Gundala ini justru banyak mengingatkan saya kepada sosok Batman. Beraksi lebih sering pada malam hari, dan punya ‘orang dalam’. Sisi penceritannya yang gelap pun agak membuat saya terngiang dengan film Batman Begins. Namun, jangan bayangkan sosok seorang milyuner playboy dengan segudang alat canggih bak Bruce Wayne. Karena Sancaka hanyalah seorang security pabrik.
Poster Gundala, Picture Courtesy: Jagat Sinema Bumi Langit
Seperti beberapa film sebelumnya yang disutradarai oleh Joko Anwar, ia selalu berhasil mengangkat peran anak-anak menjadi sangat menonjol. Bahkan Muhammad Adhiyat yang memerankan tokoh Ian dalam Pengabdi Setan pun berhasil menyabet penghargaan Pemeran Anak Terbaik pada ajang Festival Film Indonesia (FFI) 2017. Nampaknya hal tersebut sangat mungkin terjadi pula pada Muzakki Ramdhan, aktor pemeran Sancaka cilik yang aktingnya dapat mencuri perhatian sejak awal film. Malah saya lebih menyukai karakter Sancaka kecil, dibandingkan dengan Sancaka dewasa. Lalu ada juga tingkah laku kocak dari Teddy, adik dari Merpati, salah satu next hero yang diperankan oleh Tara Basro yang lumayan mendapat porsi tampil cukup banyak. Di samping itu, kemunculan beberapa tokoh lain  dari Jagat Sinema Bumi Langit memberikan efek excitement tersendiri terhadap keberlanjutan universe ini di industri perfilman Indonesia. Setidaknya, selama beberapa tahun ke depan, penonton Indonesia akan disuguhkan ‘rasa’ film yang berbeda. Di luar pemeran anak-anaknya, karakter Ghazul yang diperankan Ario Bayu, dan Pengkor yang diperankan oleh Bront Palarae cukup memorable. Selain karena karakternya, beberapa dialog yang mereka ucapkan pun quotable. Hanya saja, saya berharap karakter Pengkor ini bisa tampil lebih evil. 


Kehadiran Cecep Arif Rahman sebagai aktor sekaligus penanggung jawab Koreografi di Gundala, sepertinya memang menjadi jaminan mutu dari adegan laga yang disajikan. Aksi-aksi pertarungan sekelas The Raid pun menjadi salah satu santapan lezat di film ini, walaupun tidak sampai terlalu vulgar. Adegan-adegan yang melibatkan darah di sini, selalu disamarkan dengan apik, tanpa menghilangkan intensitas ngeri dan ketegangannya.

Dari segi sinematografisnya, tentunya kualitas arahan Joko Anwar tak perlu diragukan lagi. Film ‘Kala’ yang meraih Tata Sinematografis Terbaik pada FFI 2007 menjadi salah satu buktinya. Bahkan, di bagian awal film, serta di beberapa bagian lainnya, vibe-nya berasa ‘Kala’ banget. Tone warnanya pun sama-sama banyak menghadirkan warna kuning yang hangat. Untuk kualitas visual efek nya pun terbilang cukup baik, dan tak berlebihan. Walaupun ada satu adegan yang menurut saya sedikit agak kurang pas penggunaannya, tapi masih bisa termaafkan.

Bagi saya, hal paling menarik yang disuguhkan dalam film pertama Jagat Sinema Bumi Langit adalah dari segi skenario, dan penceritaannya. Saya menangkap kesan bahwa film Gundala ini ingin menyampaikan pesan tentang perlawanan rakyat. Mulai dari adegan pertama film, hingga adegan penutup. Anyway, adegan pertama film ini diawali dengan para buruh pabrik yang bentrok dengan petugas keamanan perusahaannya. Adegan ini tampil juga di trailer ya, jadi ini bukan spoiler, hehe. Lalu kita bisa coba menghitung berapa banyak kata ‘rakyat’ disebut sepanjang film. Seolah ingin menegaskan sebuah pesan tertentu dari masyarakat bawah yang berada di tengah bayang-bayang penguasa. Hal ini juga dapat terlihat dari kostum Gundala yang benar-benar ditampilkan apa adanya, layaknya sebuah low cost cosplay. Bahkan, kadang Abimana Aryasatya yang memerankan Sancaka, tampak terlihat sedikit aga kedodoran dalam kostum Gundalanya. Namun bagi saya, kostum Gundala ini menjadi sebuah simbol personifikasi atas rakyat kecil Indonesia yang hidupnya sederhana. Ketika ia berada satu frame dengan karakter antagonis Pengkor pun, nampak sekali pesan ‘rakyat vs penguasa’ yang ingin coba disampaikan ke penonton.

Selain soal perlawanan rakyat, Joko Anwar juga menyelipkan pesan-pesan lain yang mungkin menjadi keresahan banyak orang di Indonesia saat ini, seperti korupsi, suap, dan hoax. Salah satu cara penyampaian pesannya pun sebetulnya sempat membuat saya terheran-heran, karena membuat kasus yang diangkatnya seperti terlihat bodoh. Saya baru memahami pesan, dan tujuan sebenarnya menjelang akhir cerita. Justru cara ia memberikan pesannya ini sangatlah cerdas. 

Sebagai titik mula rentetan film Jagat Sinema Bumi Langit yang akan tayang di Indonesia, Gundala menjadi awal yang menjanjikan. Joko Anwar berhasil menghindari kisah-kisah stereotype superheroes yang biasa disajikan Marvel atau DC. Ia memberikan warna sendiri untuk Gundala. Walaupun dengan gaya intro logo Bumi Langit di awal, serta keberadaan after credit scene-nya sempat mengingatkan saya dengan film-film Marvel. Tentunya saya mengharapkan,  film-film Bumi Langit selanjutnya bisa setidaknya sama, atau bisa lebih baik dari Gundala. Janganlah seperti film DC yang belakangan justru lebih banyak mendapat ulasan buruk, serta lebih banyak berita soal konflik yang terjadi antara elemen pendukung film.

By the way, konten after credit scene yang tayang, ternyata sesuai dengan dugaan saya, hehe. Ingin tahu adegan apa yang muncul? Yaaa, tonton saja laah sendiri.

2 komentar: